Suara detak bom rakitan yang ada di bawah kursi Adrian seolah menjadi bom waktu yang bisa meledakkan mereka semua. Alana panik, ia berusaha keras memotong kawat yang melilit tangan dan tubuh Adrian. Akan tetapi, kawat itu justru menyayat jemari Alana sendiri."Cepat, Rayyan!" Alana berteriak histeris. Kali ini, ia tidak sanggup lagi untuk menahan emosinya.Rayyan, yang baru saja berhasil melumpuhkan Victor dengan menusukkan belati yang ia bawa ke paha kiri Victor, langsung berlari ke Alana. Ia melirik angka digital di bawah kursi Adrian. Hitungan mundur itu sudah di angka 00:45, Rayyan segera memerintahkan Alana menjauh."Cepat pergi dari sini, Alana! Bawa Leo pergi jauh dari area ini. Sekarang!" "Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kalian!" Tolak Alana tegas."Dengar, Alana! Bukankah tadi kau sudah menyetujui tadi sebelum berangkat kesini?" Rayyan memegang pipi Alana dengan tangannya yang masih terkena darah. "Jika aku tidak bisa menjinakkan benda sialan ini, Leo hanya akan punya ka
Ler mais