"Kencangkan talinya, Celia." Celia menarik tali jubah hitam itu. Tangan pelayan itu gemetar pelan. "Nona, apakah Anda yakin ingin keluar malam ini? Penjagaan istana berlipat ganda setelah insiden racun," bisik Celia. "Ini satu-satunya kesempatanku. Aku harus ke Pasar Gelap sebelum Vaelia menyadari rencanaku," balas Roseline. TOK! TOK! TOK! Ketukan keras menghantam pintu. Celia terlonjak mundur. Wajahnya memucat pasi. Roseline segera melepaskan jubah hitamnya. Ia menyembunyikan kain itu di bawah kasur. Ia merapikan gaunnya dengan cepat. "Buka pintunya, Celia," perintah Roseline tenang. KRIET! Pintu terbuka. Jenderal Zephyrin berdiri tegap di ambang pintu. Zirah peraknya memantulkan cahaya obor lorong. Pedang panjang tersarung di pinggangnya. Sebagai tangan kanan dan asisten utama Raja, kehadirannya selalu membawa perintah mutlak. "Jenderal Zephyrin," sapa Roseline. "Raja memerintahkan kehadiranmu di Aula Utama. Sekarang," ucap Zephyrin tegas. "Untuk apa, Jenderal?
Baca selengkapnya