"Jika kau sudah selesai merapikan tamengmu, De Solis," suara Kaelan memecah keheningan, dingin dan penuh arogansi. "Kita punya dewan yang harus dihadapi." Roselina memutar tubuhnya. "Saya sudah siap, Yang Mulia." Kaelan menoleh pelan. Mata safirnya menyapu wajah Roselina yang tanpa ekspresi, lalu rahangnya mengeras. Ego sang Raja sedang bertarung hebat. Semalam, ia nyaris membakar benua hanya karena melihat wanita ini menangis. Pagi ini, ia membenci kenyataan bahwa ia begitu peduli pada seorang putri pencuri yang telah mengutuk garis keturunannya. "Ada satu hal yang ingin saya ajukan sebelum kita bekerja, Yang Mulia," ucap Roselina dengan nada formal yang kaku. Kaelan mengangkat sebelah alisnya. "Katakan." "Saya meminta izin untuk memindahkan kembali barang-barang saya ke Paviliun Timur hari ini," Roselina menatap lurus ke arah Kaelan. "Alasanmu?" Kaelan menyipitkan matanya. Hawa dingin di ruangan itu bertambah pekat. "Tugas yang Anda berikan untuk merancang kehancuran
Read more