Sore itu, badai salju bertiup kencang menghantam kaca jendela Paviliun Timur. Di dalam, Roselina duduk menatap papan catur kayunya yang kosong. Ujung jarinya mengetuk meja dengan ritme pelan. Ia sedang menunggu. Pintu terbuka tanpa suara. Ksatria Ishaq melangkah masuk, mengibaskan sisa salju dari jubahnya. Ksatria itu mengangguk pelan, memberikan isyarat aman. "Umpannya tertelan sempurna, Nyonya," lapor Ishaq dengan suara berbisik. "Setengah jam yang lalu, Jenderal Zephyrin mengirim selusin prajurit elite penyusup ke arah Sektor Empat. Mereka bergerak tanpa panji militer untuk memeriksa Gua Kapur itu." Mendengar itu, sudut bibir Roselina terangkat tipis. "Kerja bagus, Ishaq," gumam Roselina. "Zephyrin tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apa pun. Jika dia menemukan bukti penyelundupan di area patroli Vaelia malam ini, besok pagi ruang sidang akan menjadi arena pembantaian untuk kedua faksi militer itu." Rencananya berjalan mulus. Namun, begitu Roselina mencoba berdiri
Mehr lesen