Meihua berdiri di tengah ruangan, tegap dan berwibawa, meski jantungnya berdegup kencang. “Jenderal Feng,” ucapnya dingin, “aku adalah Tuan Putri. Setiap sudut paviliun ini berada di bawah perlindunganku. Jika kau berani menginjakkan kaki tanpa izinku, itu sama saja kau merendahkan perintah kaisar.”Kata-kata itu meluncur bagai pedang, menusuk harga diri sang jenderal. Pengawal-pengawal di belakangnya saling melirik, tak berani bergerak.Feng terdiam sejenak, matanya berkilat penuh kemarahan yang ditahan. Tidak ada kata maaf, tidak ada salam hormat. Ia hanya menatap Meihua lama, seolah mengukir wajahnya dalam ingatan untuk membalas di lain waktu.Dengan langkah berat, ia berbalik. Ujung jubah besinya berderak menyapu lantai. “Kita lihat… sampai kapan kau bisa bicara seperti itu,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Tanpa pamit, ia melangkah keluar, diikuti para pengawal. Pintu paviliun tertutup, meninggalkan kesunyian yang mencekam.Mei
Last Updated : 2026-04-30 Read more