Mag-log inSeribu tahun lalu terjadi sebuah peperangan yang meninggalkan misteri yang tidak terpecahkan, serta sebuah misi yang tak pernah terselesaikan. Umat manusia hidup dalam kebingungan, itulah bukti bahwa kaum iblis masih menguasai dunia. Bahkan Sang jenderal wanita yang menghilang itu, tak pernah tercatat dalam kitab sejarah mana pun, namun takdir juga tak pernah benar-benar melepaskannya. Hingga suatu hari, seorang pemuda pengecut dari dunia modern terpilih untuk menyelesaikan misi yang telah lama dilupakan itu. Hanya berbekal sebuah korek api, ia terlempar ke dunia kuno yang berbahaya. Tempat yang dipenuhi makhluk-makhluk legenda, kaum siluman yang licik, serta kaum iblis yang penuh tipu daya. Ia terpilih bukanlah sebuah kebetulan. Dan segalanya— bermula dari sini.
view moreSeribu tahun yang lalu—
Jenderal wanita Yuexian turun dari langit dan memimpin pasukan makhluk roh legendaris, Long Wei, memasuki dunia manusia. Sejak awal keberadaannya, suku Long Wei hanya memiliki satu ratu, yaitu Qi Shen, yang dikenal pula sebagai Sang Pendobrak Gerbang. Saat itu terjadi perang besar yang mengguncang langit dan bumi. Langit retak, daratan berguncang, cahaya dan kegelapan saling bertabrakan. Jenderal Yuexian memimpin pasukannya menghadapi kaum iblis dalam pertempuran penentuan. Namun perang itu tidak memiliki pemenang. Tidak pula ada yang benar-benar kalah. Di akhir pertempuran, Raja Iblis dan Jenderal Yuexian lenyap di tengah medan perang, seakan ditelan oleh dunia itu sendiri. Qi Shen dan seluruh suku Long Wei juga tidak pernah kembali ke Langit. Perang tersebut tidak pernah tercatat dalam sejarah mana pun. Yang tersisa hanyalah potongan-potongan kisah, legenda samar, dan misteri yang belum terjawab. Seribu tahun berlalu— Dunia terus berubah. Peradaban manusia bangkit dan runtuh silih berganti. Namun manusia tetap tidak menyadari satu hal. Mereka masih tersesat dan perang itu belum benar-benar berakhir. Mereka yang menghilang… sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. *** Langkah Zhang Lei bergema di koridor, tapi bisikan orang-orang terdengar lebih nyaring. Dengan kepala tertunduk, ia menatap bayangan kakinya di lantai licin—lebih aman daripada menantang tatapan di sekitarnya. Bisikan dan tawa ejekan sudah jadi rutinitas yang harus ia telan. “Itu dia, anak si wanita murahan.” “Hah, pasti nggak punya harga diri. Sama saja seperti ibunya, teman mabuk pria hidung belang.” “Tampangnya lumayan… sayang hidupnya menyedihkan.” Jari-jarinya nyaris menembus telapak, tapi wajahnya tetap kosong. Lebih baik begitu. Dan pahitnya—semua itu memang kenyataan. Ia bahkan bisa menebak kalimat berikutnya sebelum sempat keluar dari mulut mereka. Sejak kecil, ia hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang busuk: ayahnya hanya tinggal nama di catatan kriminal, dan ibunya… lebih sering jadi bayangan lampu klub malam daripada bayangan di rumah. Kadang Zhang Lei bertanya-tanya—apakah nasibnya juga ditulis di tempat yang sama: catatan yang tak pernah bisa ia hapus. Musuh terbesar Zhang Lei bukanlah bisikan-bisikan di kampus, melainkan Wang Yan. Hari itu seharusnya biasa saja: kuliah, pulang, tidur. Tapi di gerbang kampus, takdir sudah menunggunya. Wang Yan berdiri bersama tiga temannya. Dia anak pemilik klub malam tempat ibunya bekerja—dan sejak lama jadi duri di hati Zhang Lei. Sorot matanya hari itu berbeda, penuh kebencian. “Bawa dia ke hutan,” katanya datar. “Aku muak melihat mukanya di sini.” Empat lawan satu. Zhang Lei meronta, tapi tubuhnya segera terikat genggaman kasar. Pertarungan sudah ditentukan sejak awal. Mereka membawanya ke Hutan Hitam—tempat orang hilang, tempat cerita berakhir. Nama itu saja cukup membuat penduduk kota enggan menyebutnya setelah gelap. Konon, suara geraman makhluk yang tak pernah terlihat kerap keluar dari dalamnya. Tanah dingin menyambut punggung Zhang Lei ketika ia didorong jatuh. Wang Yan jongkok di depannya, seringai puas menggores wajahnya. “Aku muak melihat wajah sok tampanmu. Padahal kau cuma sampah.” Wang Yan mengeluarkan pisau kecil; ujungnya berkilat disambar matahari. “Perempuan yang kusukai memperhatikanmu. Menjijikkan. Jadi kupikir, sedikit goresan di wajahmu akan membuatnya jijik juga.” Zhang Lei menelan ludah. Jantungnya menjerit, tapi tubuhnya membeku. Dirusak, atau melarikan diri? Tepat ketika Wang Yan mengangkat pisau itu, terdengar suara geraman panjang dari dalam hutan. Wang Yan dan gengnya membeku. Zhang Lei tidak menunggu mereka sadar. Ia berlari. Di depannya, ia melihat ada batu besar dengan lubang kecil di tengahnya—cukup besar untuk satu orang. Napasnya memburu. Terfikir untuk masuk dan bersembunyi di situ. Tapi kemudian ragu dan memutuskan untuk terus lari. Wang Yan dan gengnya mulai mengejar, tapi suara geraman yang semakin keras membuat mereka ragu. Zhang Lei masih terus berlari, garis-garis cahaya yang kasat mata di terobos begitu saja olehnya dan lebih anehnya dia selalu kembali menghadap batu besar itu. Tak ada pilihan. Dengan tubuh gemetar, Zhang Lei memaksakan tubuhnya untuk masuk ke dalam lubang kecil itu. Cukup dalam Zhang Lei merangkak kedalam lubang itu sampai pada akhirnya dia jatuh ke dalam kegelapan. Sensasi dingin langsung menyergap tubuhnya. Air setinggi lutut menyambutnya di dasar, membuat tubuhnya menggigil. Tangannya meraba-raba, tetapi tidak ada apa pun selain dinding batu kasar dan suara gemuruh air menetes. Sunyi. Gelap. Hanya ada suara napasnya sendiri yang memburu. Tangannya merogoh saku celana. Korek gas. Satu-satunya alat yang bisa ia gunakan untuk melihat. Dengan gerakan cepat, ia menyalakan api kecil itu. Nyala api berkedip-kedip, memperlihatkan dinding batu yang dipenuhi simbol-simbol aneh. Ukirannya terlihat kuno, seperti hieroglif, tapi dengan pola melingkar yang tampak seperti matahari dan bulan bertabrakan. “Apa tempat ini…?” Zhang Lei melangkah lebih dalam. Semakin jauh ia berjalan, semakin jelas terdengar suara dengkuran berat. Kemudian ia melihatnya. Makhluk itu. Dua ekor makhluk sebesar gajah, berbentuk seperti singa berbadan logam dan bertanduk perak, saling menerjang di tengah gua yang luas dan berkilauan cahaya kristal. Yang satu memiliki sayap besar di punggungnya, mengepak dengan kekuatan dahsyat hingga angin mengguncang dinding gua. Yang satunya lagi, dengan mata merah menyala dan ekor bercabang tiga seperti cambuk baja, mengaum keras sambil mengelak gesit, mengayunkan ekornya seperti senjata yang mematikan. Zhang Lei menahan napas. Makhluk ini… bukan dari dunia manusia. Tangannya gemetar. Ia harus pergi dari sini sebelum mereka menyadarinya. Namun, saat ia berbalik, sebuah mata merah besar tiba-tiba terbuka dari bayangan di sudut gua. Makhluk ketiga. Ia lebih besar dari dua lainnya, dengan tanduk perak di kepalanya dan tubuh yang dipenuhi luka pertempuran. Napasnya menghembuskan asap ke udara. Dan ia menatap langsung ke arah Zhang Lei. Jantung Zhang Lei hampir berhenti. Makhluk itu menggeram. Tanah bergetar. Ia telah ditemukan. Tanpa berpikir, Zhang Lei menyalakan korek gasnya dan mengayunkannya ke depan. Nyala api kecil itu seketika menciptakan bayangan besar di dinding gua. Makhluk bertanduk itu mundur sedikit, tampak enggan mendekati cahaya. “Mereka takut api?” Melihat kesempatan, Zhang Lei berlari. Ia terus berlari tanpa henti, meski napasnya tersengal. Setiap sudut gua dipenuhi makhluk-makhluk yang mulai terbangun dari tidur mereka. Kemudian, di kejauhan, ia melihat cahaya. Jalan keluar! Dengan sekuat tenaga, Zhang Lei berlari menuju cahaya itu dan— Ia jatuh ke tanah berpasir yang panas. Namun, yang menunggunya di luar bukan dunia yang dikenalnya. Di hadapannya terbentang gurun luas—dan di sana, ribuan makhluk itu berkeliaran. Kini menatapnya dengan tatapan penasaran. Di saat-saat menegangkan, sesuatu bergerak dari dalam jaketnya. Seekor makhluk yang sama tapi hanya seukuran telapak tangannya keluar menatap Zhang Lei dengan bingung. Tanpa berpikir panjang Zhang Lei menggunakan kesempatan itu, di genggaman erat makhluk kecil itu lalu di angkatnya ke udara, lalu menyalakan korek gasnya. Seketika beberapa raungan terdengar. Makhluk itu merasa terancam. Salah satu dari mereka kini menjadi sandera di tangan Zhang Lei. Tidak di sia-siakan oleh Zhang Lei, kesempatan untuk berlari dan melepaskan diri. Dia berlari dan terus berlari tanpa memandang belakang. Pemandangan Langit di atasnya berwarna merah jingga, dengan matahari yang tampak terbelah dua. Di kejauhan, ada benteng batu raksasa yang terlihat seperti kota kuno. Zhang Lei mengerjapkan mata. Napasnya terengah. “Aku… di mana?” Di belakangnya, suara gemuruh mulai terdengar lagi. Makhluk-makhluk itu tidak membiarkannya lari begitu saja. Dan sekarang, mereka mulai mengejar ke arahnya. Zhang Lei berlari sekuat tenaga. Menjauhkan diri dari ancaman. Berlari tak tentu arah. Siang dan malam di tempuhnya tanpa makan dan minum. Hingga tubuhnya terasa semakin berat. Hampir dua hari bertahan, kakinya kini tenggelam ke dalam pasir setiap kali ia mencoba melanjutkan perjalanan. Zhang lei terhuyung dan terbaring di atas pasir panas, matanya terpejam. Tubuhnya tidak lagi mampu bertahan. Namun sialnya di saat itu juga, kembali terdengar suara gemuruh yang semakin mendekat. Beberapa makhluk raksasa itu kini berjalan dengar langkah berat ke arahnya, mata merah mereka menyala ganas di bawah matahari yang tampak terbelah dua. “Aku akan mati di sini…” Namun, di saat terakhir, sebelum makhluk-makhluk itu bisa menerkamnya— Sesuatu melesat dari kejauhan. WHUUSHH! Sebuah tombak kayu panjang menembus udara, menancap tepat di depan kaki Zhang Lei. Pasir beterbangan. Makhluk-makhluk itu berhenti sejenak, mencium udara sekeliling. Lalu, hujan panah menghujani mereka. Zhang Lei memaksa untuk membuka matanya, ia menyaksikan beberapa makhluk meraung terkena serangan itu. Dari kejauhan, puluhan orang dengan pakaian compang-camping muncul dari balik bukit pasir. Mereka memegang busur dan tombak, menyerang dengan sigap. Seorang pria paruh bayah dan berjanggut panjang melambaikan tangannya. “Bawa pemuda itu! Cepat!” Seseorang berlari ke arah Zhang Lei, meraihnya sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi. “Siapa mereka?” Satu-satunya yang ia tahu, haus, lapar dan lelah. Bersambung…Tujuh hari kemudian. Langit kota akhirnya kembali cerah. Meski jejak kekacauan masih terasa di mana-mana. Berita tentang kerusuhan massal memenuhi seluruh media. Namun tidak ada satu pun manusia yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Mereka hanya menganggap semuanya sebagai bencana misterius. Sementara itu— di sebuah pemakaman yang sunyi— Zhang Lei berdiri diam di depan batu nisan Wang Yan. Jin Yuan dan Yunxi berdiri di sampingnya. Angin pagi bertiup pelan melewati deretan pohon. Foto Wang Yan di batu nisan tampak tersenyum tipis. Berbeda jauh dengan hidupnya dulu. Tidak ada yang bicara cukup lama. Sampai akhirnya Zhang Lei perlahan meletakkan bunga putih di depan makam itu. “Terima kasih…” Suaranya sangat pel
Dan saat Yunxi sampai—ia langsung membelalakkan mata.Benda yang bercahaya dari saku Wang Yan itu adalah botol jiwa Meihua yang sebelumnya di bawa pergi oleh Wang Yan.Botol itu bergetar kuat.Cahaya putih lembut keluar dari dalamnya.Dan di tengah kekacauan itu—suara Meihua terdengar sangat jelas.“Yunxi…”Tubuh Yunxi langsung gemetar.“Meihua…?”Cahaya di dalam botol bergerak pelan.“Aku harus kembali ke tubuhku.”Yunxi langsung menggeleng cepat.“Tidak!”Air matanya langsung jatuh.“Kalau kau kembali… Baizuran akan menggunakanmu lagi!”Suara Meihua terdengar lembut.“Karena itu kau harus melemparkanku ke arahnya.”Yunxi membeku.Matanya melebar penuh keterkejutan.“Apa…?”“Jiwaku dan jasadku masih terhubung.”“Kalau aku kembali… walaupun hanya sesaat… aku bisa menghentikannya.”
Kabut hitam perlahan menyebar di atas gedung tinggi itu. Angin malam bertiup dingin. Dan di tengah aura iblis yang menyesakkan— sosok itu berjalan keluar perlahan. Gaun pengantin merah kuno bergerak lembut tertiup angin. Rambut panjang hitamnya terurai indah. Kulitnya pucat halus. Dan wajah itu… wajah yang sangat dikenal Zhang Lei. Meihua. Tubuh Zhang Lei langsung membeku. Matanya melebar tidak percaya. “Mei…hua…” Suara Zhang Lei bahkan terdengar bergetar. Sosok gadis itu terlihat begitu hidup. Begitu nyata. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Ia tampak sehat. Cantik. Sama seperti terakhir kali Zhang Lei melihatnya di dunia kuno— di hari kematiannya. Meihua berj
“Aku tahu di mana Meihua.” Suara Zhang Lei terdengar tegas dan dingin. Semua langsung menoleh padanya. “Aura Baizuran… sekarang sangat jelas.” Tatapannya berubah tajam. “Dia berada di pusat kota.” “Dan dia sedang membuka portal itu.” Ao Bai langsung menyadari sesuatu. Wajahnya berubah serius. “Kalau portal dunia kuno benar-benar terbuka…” “…maka semuanya selesai.” Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera berangkat. Mobil melaju membelah kota yang sudah berubah kacau. Langit malam kini sepenuhnya hitam. Kabut iblis menyelimuti gedung-gedung tinggi. Suara jeritan dan kekacauan terdengar di mana-mana. Manusia saling menyerang. Mobil terbakar di jalan. Dan di langit— retakan besar berbentuk lingkaran mulai






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu