Aruna tidak benar-benar tidur malam itu.Matanya memang sempat terpejam, tubuhnya sempat beristirahat, tapi pikirannya... tidak pernah benar-benar diam. Nama itu terus berputar di kepalanya, wajah itu terus muncul tanpa diminta, dan yang paling menyebalkan, cara Atlas bereaksi ketika nama itu disebut, terus terulang seperti potongan adegan yang tak bisa ia hentikan.Menyebalkan.Tapi juga... menyakitkan, dengan cara yang tidak ia duga.Aruna membalikkan tubuhnya di atas ranjang ketika matahari mulai muncul, menatap langit-langit kamar yang perlahan terang. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Semua orang punya masa lalu, kan?Bahkan dirinya juga punya.Ia dan Agasa... lebih dari setengah dekade bersama. Itu bukan waktu yang sebentar. Tapi sekarang? Ia bahkan tidak bisa lagi mengingat dengan jelas bagaimana rasanya mencintai lelaki itu. Yang tersisa hanya kesal, jengkel, dan sedikit rasa malas kalau namanya kembali muncul.Cepat-cepat ia menggeleng, seolah bi
Read more