"Pak Atlas, bisa kita bicara berdua?"Suara Aruna terdengar jelas, tegas, tapi ada sesuatu yang pecah di dalamnya—sesuatu yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Tatapannya lurus ke arah Atlas, tajam, penuh tuntutan yang selama ini ia tahan.Namun Atlas... tetap seperti itu.Duduk di kursinya, punggung tegak, satu tangan masih bertumpu di meja, seolah tidak ada badai yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Ia bahkan tidak langsung menatap Aruna. Pandangannya masih ke depan, ke arah berkas-berkas dan orang-orang di sekitarnya, seakan permintaan Aruna hanyalah gangguan kecil di tengah kesibukannya."Saya masih meeting penting," ucapnya akhirnya, nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi, "mungkin lain waktu?"Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam Aruna.Ia mengerjap, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Napasnya tertahan, lalu keluar dalam hembusan kasar. Tangannya naik tanpa sadar, menyibakkan rambutnya ke belakang dengan gerakan frus
Read more