Swipe Right for Love

Swipe Right for Love

last update최신 업데이트 : 2026-03-05
에:  sidonsky방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
8챕터
10조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Bagi Aruna, menjadi pelatih kencan nomor satu di Indonesia berarti hidup dengan citra yang nyaris sempurna. Ia mengajarkan orang lain tentang cinta, sementara hidup pribadinya runtuh ketika tunangan yang ia cintai selama enam tahun berselingkuh tepat sebelum hari pernikahan. Skandal itu bukan hanya menghancurkan hatinya, tapi juga hampir mematikan reputasinya. Saat publik mulai meragukannya, Atlas masuk ke hidup Aruna. Pemilik aplikasi hubungan terbesar di negeri ini, dingin, rasional, dan terang-terangan tidak percaya cinta. Demi menjaga citra perusahaannya, Atlas menawarkan sebuah kesepakatan, Aruna akan menjadi wajah kampanye mereka—sekaligus pasangannya. “Kebohongan ini harus meyakinkan,” ucap Atlas di telinga Aruna. “Kamu siap?"

더 보기

1화

1| Pakar Cinta

"Bagaimana kisah percintaanmu hari ini?"

Lampu sorot menyala terang di atas panggung, cahaya putih yang nyaris menyilaukan. Logo Heartline terpampang besar di layar LED belakang. Sebuah aplikasi kencan terbesar di Indonesia, dengan jutaan pengguna aktif dan klaim ribuan kisah cinta yang berhasil. Aruna berdiri di tengah panggung, gaun putihnya jatuh sempurna, senyum cerah menghiasi wajahnya seperti biasa.

Hampir satu jam ia mengisi talkshow itu sebagai wajah kampanye Heartline. Menjawab pertanyaan dengan ringan, melempar candaan kecil, dan menyelipkan kalimat-kalimat manis tentang cinta yang sehat. Tepuk tangan datang berulang kali. 

Aruna terbiasa dengan sorotan. Dengan kepercayaan orang-orang yang menatapnya seolah ia benar-benar tahu segalanya.

"Untuk semua orang yang sudah habis sabar untuk dicinta," ucap Aruna sambil tersenyum, "Semoga cinta sesungguhnya akan rela memberimu dunia dan segalanya."

"Saya Aruna pamit undur diri dan selamat malam."

Tepuk tangan kembali menggema.

Lalu suasana berubah.

Bisik-bisik muncul, awalnya samar, lalu menyebar cepat. Beberapa orang menunduk bersamaan, layar ponsel mereka menyala serempak. Kamera-kamera mulai bergerak gelisah. Aruna menangkap perubahan itu, tapi tetap berdiri dengan postur tegak, senyum profesional masih terpasang.

Seorang penonton mengangkat tangan.

"Kak Aruna," suaranya terdengar jelas di ruangan yang mendadak sunyi, "barusan viral berita tentang Agasa yang tertangkap kamera sedang berkencan dengan perempuan lain."

Darah Aruna seperti berhenti mengalir.

"Bukannya Agasa sempat dirumorkan dekat dengan Kak Aruna?" lanjut suara itu, tanpa ragu. "Gimana tanggapan Kakak?"

Sudah dari beberapa tahun lalu Aruna memang dirumorkan dekat dengan Agasa karna keduanya sempat tertangkap kamera sedang bertemu disebuah coffee shop. Tapi baik Aruna dan pihak Agasa tidak pernah benar-benar mengkonfirmasi hubungan mereka.

Aruna sudah membuka mulut, tapi sebelum kata pertama keluar, pertanyaan lain menyusul—lebih tajam, lebih kejam.

"Dan sebagai pakar cinta... apa Kak Aruna juga bisa gagal dalam menjalin hubungan?"

Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Untuk sepersekian detik, Aruna nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi ia tersenyum. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. Senyum yang tidak pernah runtuh di depan publik.

Seorang kru naik ke atas panggung, berbisik cepat pada MC. Wajah sang pembawa acara menegang. Musik penutup diputar lebih cepat dari seharusnya.

"Acaranya kita sudahi sampai di sini," ucap MC tergesa. "Terima kasih untuk Kak Aruna."

Tepuk tangan terdengar, tidak serempak, tidak hangat. Dan begitu turun dari panggung, manajernya sudah menunggu. Wajahnya pucat, ponsel digenggam erat.

"Kak Runa," katanya cepat sambil menyerahkan ponsel itu, "internet heboh karena berita Kak Agasa."

Aruna meraih ponsel tersebut. Jarinya bergetar sesaat sebelum layar terbuka. Judul-judul berita memenuhi layar. Foto-foto yang terlalu jelas untuk dibantah. Agasa. Di dalam mobil. Dengan perempuan lain. Terlihat nyaman. Terlihat bebas.

Notifikasi pesan masuk tepat setelahnya.

Aruna, aku tahu aku salah. Tapi sepertinya aku nggak bisa lagi lanjutin hubungan kita.

Napas Aruna tertahan. Ia menekan nomor itu tanpa berpikir.

Tidak diangkat.

Sekali lagi. Tetap tidak diangkat.

"Angkat... tolong," gumamnya, nyaris tak terdengar.

Darahnya mendidih. Aruna meraih tasnya, lalu melangkah pergi. "Aku pergi dulu," katanya cepat. "Makasih buat hari ini."

Ia tidak menunggu jawaban.

Langkahnya cepat menuju parkiran basement, bergegas masuk ke dalam sedan pink metaliknya dengan fokus yang masih terbagi untuk menghubungi nomor Agasa. 

Hari sudah menjelang malam ketika Aruna mengemudikan mobilnya keluar gedung. Tidak ada lagu. Tidak ada podcast. Tidak ada suara apa pun selain dengusan napasnya sendiri dan detak jantung yang berdentum terlalu keras.

Kepalanya penuh.

"Enam tahun pacaran," gumam Aruna, rahangnya mengeras. "Cuma segitu?"

Amarahnya mendidih tiba-tiba, naik tanpa aba-aba. Setir dibelokkan tajam ke kanan. Klakson panjang dari mobil belakang meraung, nyaris menyentuh telinganya. Aruna tidak peduli. Ia melaju lebih cepat, melewati satu persimpangan tanpa menoleh.

Tangannya bergerak cepat di dashboard, menekan nomor yang selama ini jarang ia hubungi, nomor yang ia simpan hanya untuk keadaan darurat.

Manager Agasa.

Panggilan diangkat cepat. Terlalu cepat.

"Kak Runa?" suara di seberang terdengar gugup, dengan situasi latar yang begitu bising ditelinga Aruna.

Membawa alis Aruna mengerut. "Dimana Agasa?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Kak Runa..." suara itu menurun, seperti orang yang sedang menimbang hidupnya sendiri.

Sementara Aruna tidak menunggu jawaban. Dari kebisingan di seberang, dari bass musik yang bocor, ia tahu kemana tujuannya.

NoctureSebuah bar mewah yang keberadaannya sengaja disembunyikan. Tidak ada papan nama besar. Hanya huruf kecil berkilau samar di balik dinding hitam. Tempat di mana rahasia-rahasia mahal disimpan rapi.

Aruna masuk dengan wajah tak bersahabat.

Gaun putihnya masih sama seperti di panggung tadi. Rambutnya masih rapi. Tapi sorot matanya berubah, lebih tajam dan dingin. Tidak ada senyum profesional di sana.

Ia melewati pelayan tanpa berhenti. Tidak peduli lirikan. Tidak peduli bisik-bisik. Tangga menuju lantai dua dinaikinya cepat. Kawasan VIP sunyi, hanya beberapa pintu tertutup dan satu ruangan yang pintunya setengah terbuka.

Itu ruangan Agasa.

Aruna menghentakkan kakinya. Lalu, tanpa ragu, ia meraih gagang pintu.

Pintu ruangan VIP itu terbanting keras, memecah keheningan yang sejak tadi terasa mahal dan tertata. Musik pelan berhenti mendadak. Gelas-gelas kristal bergetar di atas meja marmer.

Agasa ada di sana.

Duduk santai dengan jas terbuka, dasinya sedikit longgar, dan di sisi kanannya, perempuan yang wajahnya sama persis dengan foto yang beredar luas di dunia maya. Rambut panjang, gaun hitam, tawa yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

Ruangan membeku.

Manager Agasa berdiri refleks, wajahnya pucat ketika ia mencoba melarang Aruna mendekat. "Kak Runa—"

Namun Aruna tidak berhenti. Langkahnya cepat, penuh amarah yang terkontrol. Ia menginjak kaki laki-laki itu keras hingga sang manager meringis dan terpaksa mundur, memberi jalan.

"Aruna, kamu tenang dulu," suara Agasa terdengar, berusaha bangkit dari duduknya.

Jawaban Aruna datang dalam bentuk ember kecil berisi es batu yang ia raih dari meja. Tanpa ragu, ia mengayunkan ember itu dan melemparkan seluruh isinya ke arah Agasa. Es dan air menghantam dada dan wajah lelaki itu, membuatnya terhuyung mundur dengan napas terputus.

Membuat perempuan di sampingnya menjerit dan bangkit dengan panik.

Aruna menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Dadanya naik turun cepat, tapi sorot matanya tajam, hidup, dan sama sekali tidak goyah.

"Aruna!" Agasa membentak, tangannya ia pergunakan untuk menyeka wajahnya.

"Apa?!" tantangnya ketika Agasa akhirnya berdiri dengan basah kuyup, sementara rahangnya mengeras menahan amarah. "Jangan salah paham," lanjut Aruna, suaranya dingin dan jelas. "Aku marah bukan karena kamu selingkuh atau mutusin aku gitu aja,"

Agasa terdiam.

"Aku marah karena kamu buang enam tahun hidup aku," ucap Aruna, menunjuk dadanya sendiri. "Enam tahun. Dan kamu akhiri semuanya lewat pesan singkat? Brengsek." Ia melirik perempuan itu sekilas. Senyum kecil, hampir ramah, terbit di bibirnya. "Dan kamu," katanya ringan, seolah sedang memberi ucapan perpisahan. "Good luck."

Tanpa menunggu reaksi, Aruna berbalik dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan dengan kepala tegak dan langkah mantap.

Di lorong VIP, senyum lebarnya muncul, senyum orang yang baru saja meledakkan sesuatu dan tidak berniat membereskan puingnya.

Namun langkah itu terhenti saat tangan kasar Agasa menarik pergelangannya, memutar tubuh Aruna tajam hingga punggungnya hampir membentur dinding.

"Lepas!" desis Aruna, berusaha menarik tangannya.

"Kamu harus minta maaf!" bentak Agasa, menunjuk tubuhnya yang masih basah. "Lihat apa yang kamu lakukan ke aku!"

Ucapan itu membuat Aruna mendengus. Ia mendekat, jarak mereka tinggal beberapa senti. Senyumnya kecil, berbahaya. "Harusnya aku siram kamu pakai bensin," katanya tenang. "Burn in hell, Agasa."

Cengkeraman itu menguat. Aruna meringis, napasnya tercekat, hampir berteriak, hingga suara pintu di belakang Agasa terbuka.

Langkah kaki terdengar, membuat Agasa dan Aruna menoleh bersamaan.

Seorang lelaki dengan jas hitam sedikit berantakan dan dasi longgarnya mematung. Menatap Agasa, lalu beralih menatapnya. Dan kernyitan di dahinya muncul begitu maniknya seakan mengenali wajahnya dalam suasana remang.

"Nona Aruna? Bisa bicara sebentar?"



펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
8 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status