Kelelahan ini tidak masuk akal.Aku bangun sebelum fajar dengan otot-ototku yang pegal seperti seharusnya setelah kerja keras dan medan yang lebih berat, tapi kelelahan itu terasa lebih dalam—berat, keras kepala, seperti meresap ke dalam tulangku, bukan kulitku.Aku duduk perlahan, membiarkan dunia menjadi tenang.Di sekitarku, perkemahan bergerak sedikit demi sedikit. Seseorang batuk. Seseorang mengumpat pelan sambil berusaha menghidupkan kembali bara api. Udara berbau asap, tanah lembap, dan—Daging.Perutku terasa mual.Aku mengatupkan rahang dan bernapas melalui hidung sampai rasa mual itu hilang.Hanya lapar, kataku pada diri sendiri. Atau gugup. Atau bagaimana tubuhku masih belum memaafkanku karena berhari-hari mengandalkan adrenalin.Namun, ketika semangkuk sup disodorkan kepadaku satu jam kemudian, aku ragu.Itu hal baru.Aku menatapnya, uapnya mengepul, dan sesuatu di dadaku terasa sesak&mdash
Baca selengkapnya