Gelombang lain datang, lebih tajam, merampas napasku. Aku menggigit bibir, menahannya, memaksa diriku untuk tidak berteriak.Ketika gelombang itu berlalu, aku menyandarkan dahiku sebentar ke kulit pohon yang kasar."Oke," bisikku. "Oke."Ini bukan panik. Ini perencanaan.Aku kembali tegak, tekadku menetap dengan ketenangan yang familiar namun tak diinginkan. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.Isolasi. Persiapan. Hening.Aku merapikan jubahku, menegakkan bahuku seolah-olah aku akan pergi menjalankan tugas, bukan menuju sesuatu yang akan mengubah segalanya.Ikatan itu mengencang sekali lagi, tekanan samar dan stabil yang terasa kurang seperti peringatan dan lebih seperti pengakuan.Ini baru permulaan. Terlalu cepat. Terlalu mendadak. Terlalu berbahaya.Tapi tetap saja, ini baru permulaan.Aku berpaling dari perkemahan dan bergerak lebih dalam ke pepohonan, sudah mencatat apa yang kubutuhkan, ke mana aku aka
Baca selengkapnya