Ikatan itu berubah menjadi ketenangan yang kaku dan gelisah, seperti es yang terbentuk terlalu cepat di atas air yang mengalir.Aku berhenti berjalan.Hutan menjadi sunyi bersamaku.Anak itu mendesah, hangat, hidup, dan nyata di dadaku. Aku menekan bibirku ke rambutnya, sebuah janji sunyi terucap di antara kami tanpa kata-kata.“Ingat ini,” kataku lembut padanya. “Kekuasaan retak di tempat dia menolak untuk membengkok.”Ikatan itu berdesir sekali, tegang dan gelisah, saat Mikail memaksa pikirannya maju, menjauh dari ingatan dan menuju kendali. Namun keretakan itu tetap ada. Kecil. Tak terlihat. Menunggu.Dan aku tahu karena aku telah hidup di dalam keheningan itu. Bahwa rasa takut kehilangan kendali jauh lebih berbahaya daripada kehilangan itu sendiri.***Ikatan itu tak kunjung mereda. Tak berkobar. Tak menjerit. Hanya terasa gatal. Gesekan rendah dan konstan di bawah tulang rusukku yang tak bisa dihila
Read more