"Jangan tinggalkan aku, Ibu. Tetaplah bersamaku, walau hanya satu menit saja. Aku masih sangat merindukanmu."Ibu tersenyum lembut. Jemarinya kembali mengusap rambutku dengan penuh kasih, lalu tertawa pelan. "Kalau kau tetap di sini, nanti gadis yang kau cintai akan menangis, loh. Apa kau tega membiarkan wajahnya yang cantik dipenuhi air mata?"Aku menggeleng cepat. Tentu tidak.Aku tidak pernah ingin melihat Ara menangis. Aku hanya ingin memberinya kebahagiaan, membuatnya tersenyum, dan menunjukkan bahwa hidup masih memiliki banyak hal indah untuk dinikmati. Namun, aku juga belum ingin berpisah dengan ibu."Sebentar lagi saja. Kumohon ...," pintaku lirih."Tidak, Anakku." Ibu mengusap pipiku dengan ibu jari. "Kau harus segera bangun. Dia sudah menunggumu.""Sepuluh detik saja." Aku menggeleng, menggigit bibir, lalu mengoreksi dengan berkata, "Tidak, lima detik saja."Permintaanku membuat ibu tertawa pelan. Suara tawanya begitu hangat
Baca selengkapnya