INICIAR SESIÓN"Jangan bergerak," kata Vance dengan suara pecah, lalu merunduk dan memeluk tubuh wanita itu erat-erat, mencoba untuk menenangkannya walau nyatanya sulit. "Kau akan terluka." []
"T-tidak, tidak .... Sakit, ini sangat sakit!"
Tubuh Vance bergetar. Matanya memerah yang ditutupi kabut nafsu berkilat, taringnya pun tampak memanjang. Sensasi yang membara ini membuat pandangannya berputar, Vance tidak bisa menahan gejolak panas di bawah perutnya yang siap diledakkan. Napasnya memburu,
"Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng
"Kau yakin tidak membutuhkan apa pun selain kompresan itu? Kau sekarat, Bung."Anthony melirik sekilas ke arah manusia berkulit pucat yang berdiri tak jauh darinya dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Tatapan prihatin yang dilayangkan Yuuscar justru membuatnya mendengkus pelan."Aku baik-baik saja." Suaranya serak dan nyaris kehilangan tenaga. "Hanya ... jangan biarkan aku telanjang.""Huh, kau lucu." Yuuscar mendengkus, lalu menyeringai tipis."Terima kasih," sahut Anthony dengan tawa pendek yang segera berubah menjadi embusan napas berat.Bahkan dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa merasakan tatapan Yuuscar yang mengarah kepadanya terang-terangan, seolah manusia itu sedang mengamati sekaligus mengevaluasi seberapa parah kerusakan tubuhnya.Jika saja saat ini Anthony berada di tempat lain—bukan di kediaman Yuuscar Vingkimanuel—mungkin tubuhnya sudah habis tak bersisa.Suhu tubuhnya meningkat berkali-kali lipat
"Mulai hari ini, aku melepaskanmu dari posisi sebagai mata dan tanganku."Tubuh Mikhail seakan membeku, apalagi melihat senyuman di wajah sosok yang dia kagumi."Mikhail Littenheim, kau bebas."Nada suaranya berubah tenang dan tegas. Sebuah titah terakhir dari seorang putra mahkota sudah terucap.Tidak.Kata itu seharusnya terasa seperti hadiah. Selama ratusan tahun, dia mengabdi, mengawasi, melindungi, menjadi tangan yang membunuh atas nama Juslandier, dan mata yang melihat segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau sang putra mahkota, kebebasan seharusnya menjadi hadiah.Namun, mengapa rasanya seperti sebuah hukuman?"Yang Mulia ....""Jangan menangis." Anthony tersenyum kecil. "Kau membuatnya terlihat seolah aku akan mati."Mikhail menatapnya. Darah masih tersisa di sudut bibir Anthony, tubuhnya gemetar. Auranya begitu samar hingga nyaris tidak terasa. Namun, pria itu masih tersenyum yang membuat air mata Mikhail kemba
"Iblis yang mencoba memanusiakan dirinya sendiri. Benar-benar gila, bukan?"Mikhail tidak menjawab, dia hanya mematung dengan kedua tangannya yang mengepal."Jika sekarang ada peluru nyasar menembus tubuhku, mungkin aku benar-benar akan mati kehabisan darah.""Jangan mengatakan hal seperti itu, Yang Mulia. Jika gadis itu bangun dan mendengarnya, dia pasti akan sedih."Suara Mikhail terdengar lebih jelas kali ini. Sedangkan Anthony tertawa atas pemilihan kata yang dipakai oleh Mikhail.Gadis itu, begitulah Mikhail selalu menyebut Ara. Dia tidak pernah memanggil Ara dengan sebutan Nona Jung, atau mungkin Lady Wallenstein sebagai pasangan Anthony J. Wallenstein. Namun, Anthony tahu, di balik sebutan datar tersebut, Mikhail sudah mengakui Ara sebagai seseorang yang penting.Setidaknya, penting bagi dirinya.Meski tidak dapat melihatnya dengan jelas, dia yakin bahwa saat ini Mikhail sedang menelan mentah-mentah gemuruh yang dirasakan
Beberapa puluh jam sebelumnya, 1 Januari, dini hari.Anthony duduk termenung di tepian tempat tidur. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling bertaut erat di antara kedua paha. Bahunya perlahan terangkat ketika dia mencoba menarik napas panjang. Namun, udara yang memasuki paru-parunya terasa seperti puluhan bilah pisau tajam yang menyayat dari dalam.Napas yang seharusnya memenuhi rongga dadanya hanya masuk setengah sebelum rasa sakit memaksanya berhenti.Tubuh Anthony bergetar. Dia menundukkan kepala lebih dalam, mencoba meredam suara napasnya sendiri. Tubuhnya seolah sedang dihancurkan perlahan dari dalam, sementara jantungnya berdenyut menyakitkan seperti tertusuk pedang setiap kali berdetak.Anthony menggertakkan gigi. Seluruh tulangnya terasa seperti dipatahkan satu per satu, sementara daging dan setiap saraf dalam tubuhnya bergaung lara. Peluh dingin membanjiri pelipis, leher, hingga punggungnya.Lalu, Anthony buru-buru menut
"Tuan dari mana?! Kenapa meninggalkanku sendirian?! Aku mencari Tuan ke mana-mana!"Anthony tidak menghindar. Dia membiarkan setiap pukulan mendarat di dadanya."Aku kira Tuan pergi ...." Pukulan Ara perlahan kehilangan tenaga. Suaranya menjadi terdengar lirih, dan tangan yang tadi memukul kini justru mencengkeram pakaian Anthony. "Aku kira Tuan benar-benar pergi meninggalkanku. Ketika aku membuka mata, Tuan tidak ada di sisiku."Lalu Ara mendongak, wajahnya basah oleh air mata. "Seperti saat itu."Anthony terdiam. Hanya dua kata terakhir itu yang dibutuhkan untuk membuat tatapannya berubah. Anthony tahu apa yang dimaksud Ara.Hari ketika gadis itu terbangun dan mendapati dirinya sendirian. Hari ketika rasa aman yang baru saja Ara temukan kembali direnggut begitu saja. Dan sekarang, tanpa bermaksud demikian, Anthony telah membuatnya mengingat ketakutan yang sama."Ara ...." Anthony mengembuskan napas perlahan. Tatapannya menyapu lobby, orang
Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja dia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak
Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena dia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi. Ya, tidak mungkin terjadi. N
Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam
"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya. Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia sembilan belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara







