Mag-log inKehidupan Ara dipenuhi oleh kematian, kekerasan, dan hal-hal yang seharusnya tak pernah dilihat oleh orang biasa. Dia diberkati—atau mungkin dikutuk—dengan indra keenam, sebab di dalam dirinya bersemayam jiwa Araphael, seorang malaikat yang keberadaannya telah dihapus tujuh ratus tahun yang lalu. - Sejak kecil, tragedi tak henti-hentinya menghantuinya: ayahnya pergi, ibunya meninggal di hadapannya, dan masyarakat mencapnya sebagai anak yang aneh. - Setelah membunuh pamannya yang kejam untuk melindungi satu-satunya orang yang pernah memperlakukannya dengan baik, Ara menjalani rehabilitasi, hanya untuk kembali ke rumah dan menjalani kehidupan yang hampa. - Segalanya berubah ketika dia menjual dirinya di pasar gelap dan dibeli oleh Anthony J. Wallenstein, seorang pria misterius yang ternyata telah menunggunya selama berabad-abad. - Anthony adalah setengah iblis dan setengah malaikat. Dahulu kala, dia mencintai Araphael, yang kini jiwa reinkarnasinya bersemayam dalam diri Ara. Terikat oleh Kontrak Abyss, Anthony harus melindunginya hingga ulang tahunnya yang ke-20. Namun, semakin dekat mereka, jiwa Araphael mulai terbangun, bersamaan dengan kutukan mematikan yang terkait dengan saudara tiri Anthony, Jattandier. - Tubuh Ara melemah, pikirannya perlahan retak, dan keputusasaan mendorongnya menuju kehancuran diri. Ketika kutukan itu akhirnya terbangun, tragedi masa lalu terulang, mengancam untuk menghancurkan dunia sekali lagi. Dipaksa membuat pilihan yang mustahil, Anthony mengorbankan segalanya—kekuatannya, sayapnya, dan pada akhirnya nyawanya—untuk menyelamatkan Ara dari permainan Jattandier. - Dicap sebagai monster oleh umat manusia, Anthony meninggal dalam pelukan wanita yang dicintainya. - Ara bertahan di tengah kesedihannya sambil mengandung anak Anthony. Namun, takdir memang sebercanda itu: bayi yang dilahirkannya bukan sekadar anak mereka, melainkan wadah bagi jiwa Anthony—sebuah harapan rapuh yang lahir dari cinta, pengorbanan, dan takdir yang menentang Surga dan Neraka.
view more"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia sembilan belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara suka rela datang ke tempat ini, dan menjual dirinya sendiri ketika tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Katanya, sih, perdagangan manusia. Bukan karena dia mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Karena pikirnya, dengan menjadi budak dia akan mendapatkan tempat untuk pulang dan diterima. Dia hanya mendambakan kehangatan, kebahagiaan, serta kasih dari orang di sekitarnya. Sebab selama ini, yang dia rasakan hanyalah kekosongan tak terperi. Itulah sebabnya dia berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela, diterangi lampu kekuningan yang membuat wajahnya semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana membuatnya terlihat seperti persembahan. Di sekelilingnya, manusia-manusia terkurung menunggu nasib. Di luar jeruji, para pembeli berdiri pongah. Ara menunduk dalam-dalam. Dia bisa merasakan tatapan dari luar kurungan—bukan hanya manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua, perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia, juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka. Ara bisa melihat semuanya. Sejak kecil, dia bisa melihat yang hal tak kasat mata. Akibatnya, satu per satu dunianya berubah. Ditinggalkan orang tua. Disiksa kerabat. Dikucilkan teman. Dicemooh masyarakat. Disebut pembawa sial. Monster. Anak iblis. Dan setiap kali orang tahu tentang itu, hidup Ara berubah menjadi neraka. Kemampuannya bukan anugerah. Itu kutukan. "Aku pernah mendengar kabarnya, tetapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus." "Sepertinya masih remaja, tapi berakhir di tempat ini." "Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?" "Dia bisa melihat kita." Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Namun, dia tidak peduli siapa yang membelinya. Mati pun tak masalah. "Jung Ara." Ketika namanya dipanggil, dia melangkah mendekati jeruji dan mengangkat wajahnya. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan pandangan lelah. Beginilah akhir hidupnya. "Tidak apa-apa," batinnya memaksa. "Ini pilihanku." Saat semua yang di sana mengeluh karena 'barang' seperti Ara dimiliki oleh pria tua mesum, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Udara seketika berubah drastis. Tubuh Ara menegang, dia langsung tahu, bahkan sebelum dia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu berkedip pelan saat ia melangkah. Makhluk-makhluk lain yang tadi tampak percaya diri kini menunduk. Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar halus, seolah dunia mengakui kehadirannya. Dingin, berat, menekan paru-paru siapa pun yang berdiri di dekatnya. Dalam satu gerakan cepat, dia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung. "Sepuluh juta," ucapnya datar. Semua orang heboh, ada yang tertawa, ada juga yang berdecak entah untuk apa. Pria tua yang masih dicengkeram mengerang protes, matanya melotot marah, sementara mulutnya sudah mengeluarkan kata-kata tak pantas dan sumpah serapah yang tajam. “Poundsterling. Berikan dia padaku.” Dan semuanya langsung terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut. Ara mendongak untuk pertama kalinya, dan dia melihatnya. Sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Dia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia. Dia bukan makhluk gaib biasa. Dia berbeda. "Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara. “Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan. Satu bulir peluh mengalir di pelipis Ara, belah bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar. Bukan karena nominalnya, tetapi karena cara pria itu mengatakan 'milikku'. Seolah Jung Ara bukan barang. Seolah dirinya adalah sesuatu yang sudah lama ditunggu. Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, melainkan degupan yang muncul saat yang diharapkan akhirnya akan segera terkabul. *** Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri sangat dekat dengannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya. "Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?" Ada jeda beberapa saat ketika pandangan Ara bersirobok dengan tatapan dingin pria yang sudah memilikinya, sebelum akhirnya Ara menjawab, "Baik." Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Dia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita sudah selesai. Kami pergi." Pria itu tidak lagi bicara ketika melangkah keluar ruangan, sementara Ara hanya mengikutinya dalam diam. "Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara. "Lebih baik kau diam," sahut Jong Su sambil menatap punggung pria misterius dan Ara yang kian menjauh. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi. []"Bukankah begitu, Juslandier, Anakku?"Sesaat setelah Raja Abyss mengucapkan kalimat itu, suara derit pintu besar menggema di seluruh ruangan, dua daun pintu hitam perlahan terbuka, seluruh perhatian para petinggi Abyss seketika beralih ke sana. Sementara Mikhail hampir menangis haru karena akhirnya, makhluk paling menyebalkan di seluruh Abyss itu muncul.Juslandier Bloodfallen berdiri di ambang pintu dengan pakaian hitam dan jubah kebesaran yan menjuntai rapi, rambut gelapnya masih sedikit basah setelah berendam. Langkahnya tenang, wajahnya datar seperti biasa. Namun, entah mengapa, malam ini ada sesuatu yang berbeda.Sesuatu yang bahkan tidak luput dari perhatian para petinggi dan membuat mereka mengerjap dua kali demi memastikan bahwa mata mereka tidak sedang bermasalah. Karena untuk sepersekian detik, mereka melihat sebuah senyuman tipis terukir di bibir sang putra mahkota.Dan hal itu membuat suasana ruangan menjadi jauh lebih mengejutkan daripada pengakuan tentang cinta itu send
Pertemuan sekaligus jamuan makan malam para petinggi Abyss nyaris berakhir menjadi bencana. Atau lebih tepatnya, bencana bagi Mikhail.Sedari awal acara, ahli waris klan Littenheim itu sudah duduk dengan punggung tegang dan keringat dingin yang tak henti-hentinya membasahi pelipis. Berkali-kali matanya melirik ke arah pintu utama, berharap sosok yang ditunggunya segera muncul.Namun, hingga menit-menit terakhir menjelang dimulainya pertemuan, Juslandier Bloodfallen belum juga menampakkan diri.Mikhail ingin menangis.Sungguh.Berada di ruangan yang sama dengan tujuh penguasa wilayah Abyss saja sudah cukup membuatnya merasa seperti direbus di dalam lahar gunung api. Belum lagi keberadaan Raja Abyss yang duduk di ujung meja panjang dengan wajah datar dan sorot mata yang mampu membuat para iblis menyesali kelahiran mereka.Setiap kali Raja melirik ke arahnya, Mikhail merasa setengah nyawanya langsung terlepas dari tubuh. Dan tersangka utama yang akan menjadi penyebab kematian dirinya ten
Jubah hitam dengan pauldrons besar itu tercampak begitu saja ke lantai sesaat setelah Juslandier menanggalkannya. Sebelah tangannya sibuk melepaskan dua sabuk yang melingkar di pinggang dan melintang di dada, sementara tangan yang lain menyisir rambutnya ke belakang sebelum mengacaknya lagi dengan kesal.Langkahnya bergaung pelan di ruangan luas yang dipenuhi uap hangat.Bracers dan greaves menyusul terlepas, kemudian meloloskan pakaian yang tersisa. Semuanya dibiarkan berceceran dari pintu masuk hingga tepi kolam tempat dirinya biasa berendam.Tak lama kemudian, tubuh tegap putra bungsu Raja Abyss itu telah tenggelam di dalam air hangat."Banyak sekali hal yang kulewati hari ini." Sebuah embusan napas panjang lolos dari bibirnya. Kepalanya bersandar pada tepian kolam. Mata biru samuderanya terpejam sesaat, menikmati keheningan yang jarang dia dapatkan.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama sebab wajah yang sama kembali muncul di d
Kedua iblis yang bertugas menjaga gerbang utama saling melirik saat melihat sang putra mahkota melintas. Mereka sempat berpikir bahwa penglihatan mereka sedang bermasalah, atau mungkin mata mereka tertusuk debu neraka.Sebab di wajah Juslandier Bloodfallen—makhluk yang terkenal dingin, kejam, dan tidak memiliki minat pada apa pun selain pedang dan peperangan—tersungging sesuatu yang nyaris mustahil untuk dilihat.Senyuman.Tidak lebar, tetapi tetap saja sebuah senyuman. Seketika bulu kuduk keduanya meremang."Apa kau melihatnya?" bisik salah satu penjaga."Aku berharap tidak.""Aku baru saja melihat Yang Mulia tersenyum.""Diam. Jangan mengucapkan hal mengerikan seperti itu.""Dia juga ... bersenandung."Penjaga satunya lagi langsung memucat. Mereka serentak menoleh memandangi punggung sang putra mahkota yang semakin menjauh.Hari ini terasa begitu ganjil. Mungkin langit Abyss akan runtuh. Mungkin gunu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore