LOGINKarena bagi Ara, Anthony J. Wallenstein adalah sosok yang melindunginya dari kekejaman dunia, menariknya dari jeratan rantai neraka, dan menghalangi semua tatapan biadab yang menatap terang-terangan ke arahnya. Tetapi di sisi lain, Anthony menciptakan dunia palsu untuk Ara tinggali. Dunia di mana, Ara dapat merasakan apa arti kebahagiaan, sebelum rasa bahagia itu sirna ketika mengetahui sesuatu yang terselubung di dalamnya. Intensi seorang Anthony J. Wallenstein.
View More"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia tujuh belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara suka rela datang ke tempat ini, dan menjual dirinya sendiri ketika tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Katanya, sih, perdagangan manusia. Bukan karena dia mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Karena pikirnya, dengan menjadi budak dia akan mendapatkan tempat untuk pulang dan diterima. Dia hanya mendambakan kehangatan, kebahagiaan, serta kasih dari orang di sekitarnya. Sebab selama ini, yang dia rasakan hanyalah kekosongan tak terperi. Itulah sebabnya dia berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela, diterangi lampu kekuningan yang membuat wajahnya semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana membuatnya terlihat seperti persembahan. Di sekelilingnya, manusia-manusia terkurung menunggu nasib. Di luar jeruji, para pembeli berdiri pongah. Ara menunduk dalam-dalam. Dia bisa merasakan tatapan dari luar kurungan—bukan hanya manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua, perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia, juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka. Ara bisa melihat semuanya. Sejak kecil, dia bisa melihat yang hal tak kasat mata. Akibatnya, satu per satu dunianya berubah. Ditinggalkan orang tua. Disiksa kerabat. Dikucilkan teman. Dicemooh masyarakat. Disebut pembawa sial. Monster. Anak iblis. Dan setiap kali orang tahu tentang itu, hidup Ara berubah menjadi neraka. Kemampuannya bukan anugerah. Itu kutukan. "Aku pernah mendengar kabarnya, tetapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus." "Sepertinya masih remaja, tapi berakhir di tempat ini." "Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?" "Dia bisa melihat kita." Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Namun, dia tidak peduli siapa yang membelinya. Mati pun tak masalah. "Jung Ara." Ketika namanya dipanggil, dia melangkah mendekati jeruji dan mengangkat wajahnya. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan pandangan lelah. Beginilah akhir hidupnya. "Tidak apa-apa," batinnya memaksa. "Ini pilihanku." Saat semua yang di sana mengeluh karena 'barang' seperti Ara dimiliki oleh pria tua mesum, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Udara seketika berubah drastis. Tubuh Ara menegang, dia langsung tahu, bahkan sebelum dia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu berkedip pelan saat ia melangkah. Makhluk-makhluk lain yang tadi tampak percaya diri kini menunduk. Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar halus, seolah dunia mengakui kehadirannya. Dingin, berat, menekan paru-paru siapa pun yang berdiri di dekatnya. Dalam satu gerakan cepat, dia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung. "Sepuluh juta," ucapnya datar. Semua orang heboh, ada yang tertawa, ada juga yang berdecak entah untuk apa. Pria tua yang masih dicengkeram mengerang protes, matanya melotot marah, sementara mulutnya sudah mengeluarkan kata-kata tak pantas dan sumpah serapah yang tajam. “Poundsterling. Berikan dia padaku.” Dan semuanya langsung terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut. Ara mendongak untuk pertama kalinya, dan dia melihatnya. Sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Dia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia. Dia bukan makhluk gaib biasa. Dia berbeda. "Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara. “Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan. Satu bulir peluh mengalir di pelipis Ara, belah bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar. Bukan karena nominalnya, tetapi karena cara pria itu mengatakan 'milikku'. Seolah Jung Ara bukan barang. Seolah dirinya adalah sesuatu yang sudah lama ditunggu. Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, melainkan degupan yang muncul saat yang diharapkan akhirnya akan segera terkabul. *** Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri sangat dekat dengannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya. "Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?" Ada jeda beberapa saat ketika pandangan Ara bersirobok dengan tatapan dingin pria yang sudah memilikinya, sebelum akhirnya Ara menjawab, "Baik." Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Dia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita sudah selesai. Kami pergi." Pria itu tidak lagi bicara ketika melangkah keluar ruangan, sementara Ara hanya mengikutinya dalam diam. "Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara. "Lebih baik kau diam," sahut Jong Su sambil menatap punggung pria misterius dan Ara yang kian menjauh. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi. []Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpikan sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Dengan kedua tangan mengepal, dia berbalik dan mengejar Anthony yang hendak menuruni tangga. Vance menggapai pundak lebar pria itu, lalu menariknya hingga langkah iblis tak bersayap tersebut terhenti. “Apa yang kau maksud dengan Ara bertemu mereka?” Sepasang mata Vance memicing saat Anthony menyingkirkan tangannya dari pundak. Dalam hati, Vance berharap semua itu tidak benar. Dia tahu, sosok yang memiliki nama Anthony J. Wallenstein bukanlah tipe yang suka bergurau. Bahkan melemparkan guyonan pun terasa mustahil bagi iblis berwajah datar itu. Namun, sesuatu dalam dirinya memaksa untuk percaya.
"Apa yang terjadi padanya?"Vance berlari mendekat begitu melihat Anthony membawa Ara yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya. Nada suaranya terdengar tajam, sarat kepanikan yang sejak tadi menyesakkan dada.Dia benar-benar khawatir.Beberapa saat lalu, Vance menyaksikan sendiri bagaimana seekor naga menculik Ara dan membawanya terbang jauh ke langit. Dia telah berlari sekuat tenaga, mengejar tanpa henti, tetapi tubuhnya tak memiliki sayap untuk menyusul makhluk terkutuk itu.Yang lebih mengusiknya adalah sesuatu yang terasa janggal. Ada bagian waktu yang seolah hilang dari ingatannya.Baru beberapa puluh detik lalu Ara dibawa pergi, dan Anthony sama sekali tidak terlihat di sana. Lalu bagaimana bisa sekarang gadis itu berada dalam pelukannya?"Apa Ara baik-baik saja?" tanya Vance lagi, langkahnya cepat mengikuti Anthony yang terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Dahi Anthony berkerut tipis. Wajahnya dingin, tetapi aura d
Sepertinya saat ini dia sedang berada di ambang kematian, atau memang dirinya sudah mati karena menyaksikan sesuatu yang indah seperti sosok bersayap itu. Jika memang benar begitu, ini adalah kematian yang cukup bagus.Saat pikiran itu terlintas, tubuh Ara hampir terhempas ke tanah. Dia melihat sosok bersayap tersebut tersenyum tipis, lalu sepasang lengan yang sangat familier menangkapnya dengan kokoh, dan memeluknya erat.Rasanya hangat dan aman.Lalu, ada suara yang memanggil namanya.Suara tuannya.Dan sesaat setelah itu, dunianya berubah putih.***“Ada keperluan apa kau di sini? Bumi bukan tempat untuk makhluk sepertimu.”Itulah kalimat pertama yang Anthony lontarkan sesaat setelah dia menyambar tubuh Ara dan menggendong Ara yang nyaris menghantam tanah.“Katakan itu pada dirimu sendiri, Juslandier Bloodfallen.”Anthony menurunkan Ara dan menyandarkannya pada batang pohon. Kedua mata Ara t
“Senjata yang kuminta, kau bisa membuatnya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Anthony sesaat setelah dia melangkah masuk ke ruangan kerja Yuuscar Vingkimanuel. Pria berkulit pucat itu mendongak dari meja kerjanya, lalu menggeleng perlahan sebelum akhirnya mengangguk ragu. Dia berjalan menuju salah satu rak penyimpanan di sudut ruangan, jemarinya menyusuri deretan botol kaca, serpihan logam, dan permata yang tersusun rapi. “Aku sedang berusaha keras membuatnya, dan masih membutuhkan beberapa bahan untuk dicampurkan.” Yuuscar menghela napas tipis. “Dan, ya, butuh waktu untuk menyelesaikannya. Kau tahu sendiri, membuat senjata seperti yang kau minta itu tidak mudah.” Anthony terdiam. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kasar. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil sebuah permata berwarna zamrud dari atas meja kerja Yuuscar, lalu berjalan menuju sofa dan mendudukkan diri di sana. Ba
Selama perjalanan kereta dari Stasiun Paddington, Ara sama sekali tidak berbicara. Dia hanya memandang ke luar jendela, menatap domba-domba yang tersebar di sepanjang bukit dan rumah-rumah batu kapur berwarna kuning madu yang berkelebat di sepanjang jalur.Anthony pun sama; pria itu memi
Ara melompat kecil saat turun dari kereta yang baru saja membawanya ke sebuah kota. Sejak keberangkatan, ia tidak banyak bertanya. Namun, begitu kakinya menjejak peron, Ara tak bisa lagi menahan keterkejutannya.London, Ara tak percaya tuannya akan membawanya ke kota yang penuh kesibukan
"Kau bisa pergi ... jika kau mau."Wajah Ara memucat, kalimat itu menghantamnya keras. Tangannya mencengkeram pakaian Anthony, gemetar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh. Kepalanya menggeleng berulang kali, sementara matanya terpejam erat."Apa Tuan i
"Anthony!" Anthony, katanya. Ara memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan. Saat itu juga, Anthony berhenti. Geramannya lenyap, tertelan oleh degup jantung Jung Ara yang berdetak begitu keras dan cepat di telinganya. Di depan sana, Mikhail memasang wajah kosong ketika sebuah tangan menyentuh punda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore