"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya. Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia tujuh belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara suka rela datang ke tempat ini, dan menjual dirinya sendiri ketika tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Katanya, sih, perdagangan manusia. Bukan karena dia mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Karena pikirnya, dengan menjadi budak dia akan mendapatkan tempat untuk pulang dan diterima. Dia hanya mendambakan kehangatan, kebahagiaan, serta kasih dari orang di sekitarnya. Sebab selama ini, yang dia rasakan hanyalah kekosongan tak terperi. Itulah sebabnya dia berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela, diterangi lampu kekuningan yang membuat wajahnya semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih
Read more