Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena dia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi. Ya, tidak mungkin terjadi. Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya. "Hei, bangun ...." Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini? “Bangunlah.” Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah. “Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.
Leer más