"Aku mencintaimu, Tuanku, Anthony."Di saat itu juga, Anthony menghentikan pinggulnya. Keterkejutan singgah begitu jelas di wajahnya hingga Ara nyaris tertawa. Namun, sesaat kemudian pria itu kembali bergerak dan menarik Ara ke dalam pelukan."Aku juga mencintaimu," bisik Anthony penuh kasih. Suaranya terdengar berbeda, lebih berat dari biasanya. "Aku sangat mencintaimu, Ara."Pemilik rambut jelaga itu menggantungkan nama Ara di ujung lidahnya berulang kali, seolah Anthony sedang menanam nama itu sedalam mungkin ke dalam dirinya agar bahkan kematian sekalipun tidak mampu menghapusnya.Dia mendorong dirinya lagi dan lagi dengan dahi yang dia sandarkan pada leher Ara, sementara Ara memeluknya semakin erat. Dan ketika Anthony mengangkat wajah, sesuatu yang basah dan hangat jatuh ke pipinya.Ara mengerjap. Sebelum dia sempat melihat lebih jelas, telapak tangan Anthony sudah menutupi kedua matanya."T-Tuan?" panggil Ara disela napasnya yang mende
Baca selengkapnya