Suasana di Fakultas Ekonomi hari itu benar-benar gempar. Kabar tentang "Mencairnya Sang Gunung Es" menyebar lebih cepat daripada revisi skripsi. Arkana Adhitama, yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat dan tatapan yang bisa membekukan ruangan, hari ini melangkah dengan bahu yang lebih rileks.Setiap kali ia melewati koridor, ada senyum tipis yang tersungging secara tidak sadar. Bahkan, saat seorang mahasiswa salah mengutip teori Adam Smith di kelas, Arkana tidak langsung menyemprotnya dengan kalimat pedas. Ia hanya berdehem, membenarkan letak kacamatanya, dan berkata, "Coba tinjau lagi bab dua, ya. Jangan melamun terus."Siska yang duduk di barisan tengah bersama Fanya saling berpandangan horor. "Ini bukan Pak Arkana. Ini pasti alien yang nyamar jadi dia," bisik Siska.Dengan gerakan kilat, Siska mengeluarkan ponselnya di bawah meja. Ia merekam video durasi sepuluh detik yang memperlihatkan Arkana sedang menatap layar laptopnya sambil senyum-senyum sendiri—pemandangan yang leb
Read more