LOGINSatu kata untuk hari pertama kuliah Keira: Bencana Satu kata untuk makan malam keluarganya: Kiamat Dijodohkan dengan Arkana Adhitama adalah mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Keira. Arkana itu sedingin kutub utara dan sekaku kanebo kering, sangat bertolak belakang dengan jiwa Keira yang meletup-letup. Keira mencoba segala cara untuk kabur, namun Arkana justru mengunci langkahnya dengan alasan "bakti". Di antara dinding dingin yang dibangun Arkana dan sikap bar-bar Keira yang tak terduga, akankah muncul sebuah rasa? Ataukah pernikahan ini hanya akan menjadi medan tempur tanpa akhir?
View More"Tapi boleh nggak kalau kita tunggu sebentar lagi? Aku ingin lulus kuliah dulu, Arkana. Aku ingin fokus menyelesaikan skripsiku dan meraih gelar itu dengan usahaku sendiri tanpa harus terbagi fokusnya dengan kehamilan atau mengurus bayi. Aku ingin siap sepenuhnya secara mental sebelum jadi ibu," ungkap Keira dengan jujur. Arkana menatap istrinya cukup lama, lalu ia tersenyum dan mengecup kening Keira dengan sangat dalam. "Saya mengerti. Maaf kalau saya membuatmu merasa tertekan." "Nggak kok, aku cuma mau jujur sama kamu." "Keputusan yang bijak, Sayang," lanjut Arkana sambil mempererat pelukannya. "Pendidikanmu tetap prioritas. Saya tidak akan memaksamu. Kita nikmati saja dulu waktu berdua seperti ini. Lagi pula, kalau tidak ada anak dulu, artinya perhatianmu masih bisa 100% untuk saya, kan?" Keira mencubit hidung Arkana dengan gemas. "Ujung-ujungnya kamu mau dimanja terus ya!" Arkana tertawa rendah, lalu ia mengecilkan volume televisi dan mendekatkan wajahnya ke teling
"Saya bilang bahwa tindakannya tempo hari membuat asisten saya tidak fokus bekerja karena merasa terintimidasi. Saya memperingatkannya untuk tetap profesional dan tidak lagi mengganggu kamu dengan omong kosongnya tentang masa depan di kampus ini," jelas Arkana dengan nada bariton yang mantap. Keira terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman lebar perlahan terbit di bibirnya. Rasa kesal akibat senggolan bahu tadi menguap seketika, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dadanya. "Jadi itu sebabnya dia mukanya merah padam kayak mau meledak?" Keira tertawa kecil, ia merasa sangat senang karena Arkana benar-benar memasang badan untuknya, menunjukkan bahwa ia tidak sendirian menghadapi intimidasi Sarah. "Mungkin. Dia sepertinya tersinggung karena saya lebih membela asisten saya daripada mendengarkan 'nasihat' seniornya," tambah Arkana dengan kilat jahil di matanya. "Puas sekarang? Tidak perlu takut lagi padanya?" Keira mengangguk mantap, ia melingkarkan lengannya di leher Arkana
Beberapa hari kemudian, di koridor lantai dua dekat perpustakaan, Keira berpapasan dengan Sarah. Seperti dugaan, dosen cantik itu langsung melemparkan tatapan sinis yang seolah ingin menguliti Keira hidup-hidup. Namun, Keira hanya membalasnya dengan senyum tipis yang sangat sopan sebelum melangkah pergi. Ia sudah merasa jauh lebih tenang setelah pembicaraannya dengan Arkana malam itu. Tak lama setelah itu, ada sebuah rapat kecil di ruang dosen yang mengharuskan Arkana dan Sarah mendiskusikan kurikulum terbaru. Begitu pembahasan kuliah selesai dan beberapa dosen lain meninggalkan ruangan, Arkana menutup map penelitiannya. Suasana berubah menjadi sunyi dan dingin. Sarah baru saja hendak membuka pembicaraan pribadi saat Arkana mendahuluinya dengan suara bariton yang tenang namun penuh wibawa. "Sarah, ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan. Bukan soal mata kuliah," ucap Arkana tanpa menatap lawan bicaranya, ia sibuk merapikan pulpen di sakunya. Sarah tersenyum manis, meng
Ponsel di atas meja bergetar nyaring. Arkana melirik layar, lalu mengembuskan napas pendek. "Dekan. Saya harus ke ruangannya sebentar," ucapnya sambil berdiri. Ia menatap Keira sejenak, memberikan tatapan yang seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan itu. Keira berpura-pura sibuk merapikan tumpukan jurnal di meja, namun ia bisa merasakan sepasang mata Sarah yang tajam menghujam punggungnya. "Sudah berapa lama kamu melakukan ini?" suara Sarah memecah kesunyian, kali ini nadanya jauh lebih dingin dan penuh intimidasi, tanpa ada Arkana di sana. Keira menoleh perlahan. "Maaf, Bu? Melakukan apa?" Sarah melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai parket. Ia berhenti tepat di depan Keira, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Jangan berpura-pura bodoh. Saya sudah lama mengenal Arkana, jauh sebelum asisten ingusan seperti kamu masuk ke fakultas ini. M
"Ayo, cepat! Ke bagian frozen food dulu!" Keira menarik ujung kemeja Arkana dengan tidak sabar, langkahnya setengah berlari di antara rak-rak supermarket yang mulai ramai oleh pengunjung jam pulang kantor. Arkana, yang kini memakai masker dan tampil tanpa kacamata, hanya bisa pasrah mengikuti t
"Keira, duduk." Perintah itu singkat, namun memiliki otoritas yang membuat kaki Keira bergerak sendiri menuju kursi di depan meja Arkana. "Dengar," Arkana condong ke arah meja, menatap Keira tepat di manik matanya. "Saya menurunkanmu di basemen karena itu tempat paling aman. Di halte yang kamu
Keira tetap menatap layar laptop. "Ya... kan Mama sering kirim makanan. Sayang kalau nggak dimakan cuma gara-gara Bapak mau makan siang sama mahasiswi centil itu." Arkana berdiri, berjalan mendekat ke meja Keira. Ia meletakkan tangannya di tepi meja, mengurung Keira dalam ruang geraknya yang terb
Berita itu menyebar seperti api di area fakultas. Nama-nama asisten dosen untuk semester ini telah dipajang di papan pengumuman digital, dan nama Keira Olivia berada tepat di samping mata kuliah Manajemen Strategis yang diampu oleh Arkana Adhitama.Bagi mahasiswa lain, itu adalah pencapaian luar b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews