“Selamat pagi, Kapten.” Suara sambutan yang sudah dua minggu ini tidak dia dengar, akhirnya terdengar lagi. Raka membalas hormat yang mereka berikan, lalu masuk ke ruangannya. Aneh memang, biasanya hal yang selalu ia lihat setiap saat adalah Aluna. Namun kali ini, hanya setumpuk kertas dan Dion yang sudah duduk di mejanya. Tarikan napas kasar Raka membuat Dion meliriknya. “Kenapa? Sepertinya hari ini Kapten tempur kita sedang gelisah,” cibir Dion tanpa mengubah ekspresinya sedikitpun. Raka hanya mengangkat sebelah alisnnya, lalu mengeluarkan tas bekal yang tadi Aluna siapkan. Agak bergidik melihat gambar dinosaurus itu. Baru hendak menyantap, gelak tawa Dion kembali membuat Raka memicingkan mata. “Maaf, Kapten,” katanya, seraya menunduk. “Tapi saya tidak bisa menahan tawa ini terlalu lama. Bisa-bisa saya terkena TBC.” “Tawamu mengandung virus?” pekik Raka kesal. Dia mendorong kembali kotak bekal itu menjauh. “Yakin tidak dimakan, Kapten?” tanya Dion lagi. “Nanti, Ibu
Read more