Pagi datang terlalu cepat bagi Aluna. Ketika ia membuka mata, cahaya matahari sudah menyusup melalui celah tirai kamar. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, membuat Aluna sedikit mengerjapkan mata. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tak lama, semua ingatannya akhirnya kembali. Tentang pria berpakaian hitam. Tentang tangan yang hampir mencekik lehernya. Dan suara dingin yang mengatakan bahwa itu hanya peringatan. Jantung Aluna berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengangkat tangannya. Infus kecil yang dipasang Raka masih menempel di pergelangan. Cairan bening di dalam botol juga sudah hampir habis. “Jadi dia beneran ngerawat aku,” gumamnya pelan. Perlahan Aluna mencoba bangun. Tubuhnya memang masih terasa lemah, tapi jauh lebih baik dibanding semalam. Saat ia baru saja menurunkan kaki dari tempat tidur, pintu kamar tiba-tiba terketuk. Agak sedikit ragu, karena dia trauma kejadian yang semalam menimpanya. Namun tak lama,
続きを読む