Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas. Mata keduanya langsung mengarah pada Aluna yang masih memakai baju tidur berbalut blazer. Aluna bisa merasakan tatapan Sabrina yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki, perlahan, teliti, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlalu berharga. Sabrina sedikit mengangkat dagunya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Tidak elegan,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan. Namun cukup jelas untuk didengar. Tatapannya tidak berpindah. Tetap tertuju pada Aluna, dengan ekspresi tenang yang justru terasa sangat merendahkan. Aluna berusaha bersikap biasa saja. Dia meminta Bi Sari untuk menyiapkan jamuan, lalu duduk tenang tepat di kursi seberang Sabrina. “Kalau cuma soal penampilan,” ucap Aluna pe
Read more