"Kita putus saja, Ric!" ucap Dilla dingin, tanpa beban.Suasana restoran fine dining yang romantis itu mendadak beku. Rico, pria di hadapannya yang baru saja memesankan sebotol wine seharga belasan juta rupiah, terperangah. Garpu di tangannya berdenting pelan saat menyentuh porselen.Rico menarik napas panjang, emosinya memuncak hingga urat di lehernya menegang. "Putus? Kamu kenapa sih, Dill? Semuanya baik-baik saja kemarin! Kita baru saja merencanakan liburan ke Maladewa!" Rico memajukan tubuhnya, menatap manik mata Dilla yang datar. "Sebenarnya siapa sih cowok sempurna yang selalu kamu banding-bandingkan sama aku itu? Dari cara kamu menatapku, aku tahu aku nggak pernah cukup."Dilla terdiam. Pertanyaan Rico menghantamnya tepat di ulu hati, meninggalkan rasa sesak yang sulit dijelaskan. Ia sendiri bingung. Harusnya Rico adalah jawaban; dia tampan, mapan, dan berasal dari kasta yang sama. "Nggak ada cowok lain, Ric. Kita nggak cocok aja," jawabnya pendek, klise, dan sama sekali tidak
Last Updated : 2026-03-14 Read more