Kamis malam, Dilla tidak bisa tidur.Bukan karena kasurnya yang keras, ia sudah cukup terbiasa dengan itu. Bukan pula karena suara jangkrik yang setiap malam bersahutan di luar jendela, itu justru sudah menjadi semacam pengantar tidur yang aneh namun menenangkan. Melainkan karena map putih tipis itu masih tergeletak di atas meja kecil di sudut kamarnya, tepat di tempat yang sama sejak Faradiba menyerahkannya lima hari lalu.Dilla menatapnya dari atas kasur.Map itu tidak bergerak. Tentu saja tidak bergerak. Namun entah mengapa ia terasa seperti sesuatu yang hidup, sesuatu yang sabar menunggu, tidak terburu-buru, sangat yakin bahwa pada akhirnya Dilla akan datang juga ke arahnya.Ia mengembuskan napas panjang, melempar selimut tipis ke samping, dan bangkit.Di meja kecil itu, Dilla membuka map putihnya untuk ketiga kalinya dalam seminggu ini. Lembar demi lembar ia baca ulang di bawah cahaya lampu meja yang kuning remang, setiap klausa, setiap angka, setiap paragraf kecil yang terselip
Read more