LOGINFaradilla Agatha punya segalanya, kecuali satu: Angga Prasetya. Dulu, Dilla membuang Angga karena status sosial yang tak setara. Kini, saat ia menyadari bahwa hanya ketulusan Angga yang ia cari, sebuah cincin emas di jari manis pria itu menghancurkan harapannya. Angga bukan lagi pemuja yang mudah ditaklukkan. Ia membentengi hatinya dengan sebuah pertunangan sandiwara, lelah hanya dijadikan pelarian. Namun, kehilangan kemewahan dan diusir dari rumah justru membakar obsesi Dilla. Di sebuah rumah kecil pinggiran kota, sang mantan influencer ini bertekad merebut kembali miliknya. Dilla tak peduli dicap egois atau menjadi orang ketiga. Baginya, Angga adalah dosa yang sengaja ia pilih. Sanggupkah Dilla meruntuhkan benteng Angga, atau justru ia yang hancur oleh sandiwara yang ia percayai?
View More"Kita putus saja, Ric!" ucap Dilla dingin, tanpa beban.
Suasana restoran fine dining yang romantis itu mendadak beku. Rico, pria di hadapannya yang baru saja memesankan sebotol wine seharga belasan juta rupiah, terperangah. Garpu di tangannya berdenting pelan saat menyentuh porselen.
Rico menarik napas panjang, emosinya memuncak hingga urat di lehernya menegang. "Putus? Kamu kenapa sih, Dill? Semuanya baik-baik saja kemarin! Kita baru saja merencanakan liburan ke Maladewa!" Rico memajukan tubuhnya, menatap manik mata Dilla yang datar. "Sebenarnya siapa sih cowok sempurna yang selalu kamu banding-bandingkan sama aku itu? Dari cara kamu menatapku, aku tahu aku nggak pernah cukup."
Dilla terdiam. Pertanyaan Rico menghantamnya tepat di ulu hati, meninggalkan rasa sesak yang sulit dijelaskan. Ia sendiri bingung. Harusnya Rico adalah jawaban; dia tampan, mapan, dan berasal dari kasta yang sama. "Nggak ada cowok lain, Ric. Kita nggak cocok aja," jawabnya pendek, klise, dan sama sekali tidak memuaskan.
Rico adalah pria kelima yang ia campakkan dalam lima tahun terakhir. Sebuah rekor yang buruk bagi seorang influencer dengan 20 juta pengikut yang selalu mengampanyekan relationship goals. Sejujurnya, Rico tidak buruk. Dia memperlakukan Dilla seperti ratu, memberikan perhatian yang diinginkan setiap wanita di luar sana.
Tapi di setiap kencan, di setiap percakapan, Dilla selalu merasa ada yang kosong. Tanpa sadar, otaknya selalu melakukan komparasi otomatis yang menyiksa: Angga tidak akan sedominan itu. Angga pasti tahu aku sedang tidak nyaman dengan keramaian ini. Angga pasti tahu aku lebih suka es kopi pinggir jalan daripada wine mahal ini.
Setelah Rico pergi dengan kemarahan yang tertahan, Dilla pulang ke apartemen penthouse-nya. Ia termenung di kamar mewahnya yang terasa sunyi, meski di luar sana lampu Jakarta berpendar meriah. Nama Angga tiba-tiba menggema di kepalanya, seperti kaset lama yang diputar ulang.
Kenapa dulu aku menolaknya? Pikirannya mundur ke masa SMA, saat ia masih menjadi gadis remaja sombong yang merasa dunia berputar di ujung jarinya. Angga adalah pemuda yang tampan dengan cara yang sangat sederhana—kaus oblong bersih, aroma sabun mandi yang segar, dan senyum yang selalu tulus. Dia baik, terlalu baik, dan dia adalah satu-satunya orang yang tahu kapan Dilla sedang sedih hanya dari cara Dilla mengambil napas.
"Hanya karena keluarga kami nggak setara?" Dilla mencibir pada bayangannya sendiri di depan cermin besar. Ia menyentuh tas branded yang tergeletak di meja rias dengan rasa muak. Dulu, ego sebagai anak tunggal pengusaha properti kaya membuatnya buta. Angga yang hanya anak seorang guru PNS biasa dianggap tidak pantas bersanding di feeds I*******m-nya yang glamor. Ia takut dihina teman-temannya jika berkencan dengan pria yang mengendarai motor bebek tua.
"Ga make sense banget aku nolak dia... ternyata cuma dia yang paling paham aku," gumamnya penuh penyesalan. Selama lima tahun ini, ia hanya mencari bayang-bayang Angga dalam diri pria-pria kaya yang egois. Ia merindukan ketulusan yang pernah ia injak-injak.
Secercah harapan muncul di tengah kegelapan hatinya saat ia melihat sebuah notifikasi muncul di ponselnya: Undangan Reuni Digital SMA. Jantungnya berdegup tak beraturan saat jarinya menyentuh layar. Awalnya ia malas—baginya reuni hanyalah ajang pamer harta dan kesuksesan yang melelahkan. Tapi kali ini berbeda. Di daftar peserta, ada nama yang sudah lama ia kunci rapat: Angga Prasetya.
Dilla memutuskan datang dengan satu misi yang ambisius: mendapatkan kembali "pria biasa" yang kini dalam ingatannya terasa sangat luar biasa itu. Ia ingin meminta maaf, ia ingin memulai kembali.
Malam reuni itu, Dilla tampil memukau. Ia mengenakan gaun hitam satin yang simpel namun berkelas, membiarkan rambutnya tergerai indah. Ia melangkah masuk ke dalam hall dengan dagu tegak, membiarkan kilatan lampu kamera ponsel teman-temannya mengikutinya. Matanya menyapu ruangan, mengabaikan sapaan basa-basi dari rekan lama, hanya untuk mencari sosok yang ia rindukan.
Begitu matanya menangkap sosok pria di pojok ruangan, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Angga duduk di sana, sedang tertawa kecil mendengarkan cerita teman sekelasnya. Dia terlihat jauh lebih dewasa dan matang; bahunya lebih lebar, wajahnya memiliki gurat ketegasan yang baru, namun binar matanya masih sehangat dulu.
Dilla melangkah mendekat, langkahnya anggun meski hatinya berantakan. Bibirnya sudah siap mengucap kata "Hai" yang telah ia latih di depan cermin selama berjam-jam. Namun, langkahnya mendadak mati. Jarak mereka hanya tersisa tiga meter saat kenyataan pahit itu menghantamnya.
Dunia di sekitarnya seolah mendadak hening dan gelap. Suara musik dan tawa teman-temannya memudar, menyisakan lampu sorot imajiner pada tangan kanan Angga yang sedang memegang gelas minuman.
Kilau logam itu menghantam mata Dilla seperti belati tajam. Sebuah cincin emas dengan desain minimalis melingkar erat di jari manis Angga.
Tubuh Dilla langsung lemas. Kekuatan di lututnya hilang seketika, membuatnya harus berpegangan pada pinggiran meja prasmanan agar tidak jatuh tersungkur di hadapan semua orang. Napasnya tercekat, paru-parunya seolah menolak untuk menghirup oksigen.
Di saat ia baru saja menyadari bahwa Angga adalah tujuan akhirnya, ia baru sadar bahwa pria itu sudah lama berhenti menunggunya di garis start.
‘Dia sudah bertunangan’ tangisnya dalam hati, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tiga minggu pertama berjalan lebih baik dari yang Dilla bayangkan.Bukan baik dalam arti mudah, kakinya masih pegal setiap malam, tangannya masih berbau sabun cuci bahkan setelah dicuci tiga kali, dan ia masih sesekali salah hitung kembalian sampai Ryan dengan sangat tidak dramatisnya muncul dari balik mesin espresso dan membenarkan tanpa berkata apa-apa. Tapi baik dalam arti yang lebih dalam dari itu. Baik dalam arti setiap pagi ia bangun dan tahu apa yang akan ia lakukan hari ini, dan itu terasa cukup.Kontennya tumbuh dengan caranya sendiri.Bukan pertumbuhan yang meledak seperti dulu, bukan satu postingan yang tiba-tiba ditonton tiga puluh juta orang dan membuat ponselnya tidak bisa berhenti bergetar selama dua hari. Ini pertumbuhan yang lebih lambat, lebih organik, seperti tanaman yang benar-benar berakar daripada bunga plastik yang terlihat sempurna namun tidak membutuhkan tanah.Setiap hari ia merekam hal-hal kecil. Cara uap dari mesin espresso naik di pagi hari ketika kafe mas
Senin pagi datang lebih cepat dari yang Dilla siapkan.Ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, merapikan rambutnya untuk ketiga kalinya, lalu melepasnya lagi. Diikat tinggi terasa terlalu formal. Digerai terasa terlalu berusaha. Akhirnya ia memilih dikepang satu ke samping, pilihan yang tidak terlalu memikirkan diri sendiri, yang justru adalah poin utama dari semua ini.Ia mengambil ponselnya, mengecek baterai, lalu meletakkannya kembali.Hari pertama sebagai kreator konten resmi Together in Tune. Bukan sebagai Faradilla Agatha dengan dua puluh juta pengikut. Bukan sebagai anak tunggal pengusaha properti. Hanya sebagai Dilla, perempuan dengan kepang satu yang masih belum hafal cara membuat latte art dan sering salah hitung kembalian.Ia mengembuskan napas panjang.Oke. Semoga lancar.Masalah pertama muncul bahkan sebelum ia menyalakan kamera."Kamu mau mulai dari mana?" tanya Ryan, berdiri di balik mesin espresso dengan tangan terlipat dan ekspresi seorang pria yang sudah terbia
Kamis malam, Dilla tidak bisa tidur.Bukan karena kasurnya yang keras, ia sudah cukup terbiasa dengan itu. Bukan pula karena suara jangkrik yang setiap malam bersahutan di luar jendela, itu justru sudah menjadi semacam pengantar tidur yang aneh namun menenangkan. Melainkan karena map putih tipis itu masih tergeletak di atas meja kecil di sudut kamarnya, tepat di tempat yang sama sejak Faradiba menyerahkannya lima hari lalu.Dilla menatapnya dari atas kasur.Map itu tidak bergerak. Tentu saja tidak bergerak. Namun entah mengapa ia terasa seperti sesuatu yang hidup, sesuatu yang sabar menunggu, tidak terburu-buru, sangat yakin bahwa pada akhirnya Dilla akan datang juga ke arahnya.Ia mengembuskan napas panjang, melempar selimut tipis ke samping, dan bangkit.Di meja kecil itu, Dilla membuka map putihnya untuk ketiga kalinya dalam seminggu ini. Lembar demi lembar ia baca ulang di bawah cahaya lampu meja yang kuning remang, setiap klausa, setiap angka, setiap paragraf kecil yang terselip
Maya tidak bisa tidur malam itu.Ia berbaring di kasurnya dengan langit-langit putih bersih di atasnya, sangat berbeda dari langit-langit kusam di kamar Dilla yang pernah ia bayangkan ketika membaca caption konten sahabatnya, namun matanya tidak mau menutup. Pikirannya terus memutar ulang satu hal yang sama.Ekspresi Faradiba di ujung trotoar itu.Tawa yang berbeda. Punggung yang terlalu tegak. Kepuasan yang terlalu dalam untuk sekadar urusan bisnis.Maya menyipitkan mata ke langit-langit. Mungkin ia terlalu paranoid. Mungkin ia terlalu protektif pada Dilla sampai melihat ancaman di mana-mana. Mungkin Faradiba memang hanya wanita ambisius yang cara bicaranya di telepon terasa berbeda dari cara bicaranya di depan orang.Mungkin.Namun mungkin tidak cukup untuk mendiamkan perasaan yang sejak sore tadi bersarang di ujung tulang dadanya seperti duri kecil yang tidak bisa dicabut.Ia mengambil ponselnya, membuka browser, dan mengetikkan satu nama.Faradiba Adiyani.Hasilnya tidak banyak, F
“Halo semuanya,” ucapnya di depan layar ponsel yang menghadap ke wajahnya, suaranya stabil meskipun matanya sembab “Saya Faradilla Agatha, ingin mengklarifikasi mengenai foto yang beredar. Benar itu adalah saya sedang dalam keadaan mabuk, dan itu murni kesalahan saya karena tidak bisa mengontrol e
Angga memarkirkan mobil di bawah pohon trembesi yang menghadap langsung ke danau kota, pantulan cahaya lampu jalan di permukaan air menciptakan suasana tenang. Di kursi yang menghadap ke danau, Dilla duduk diam dengan air mata yang masih membasahi pipinya, ditemani hembusan angin malam yang dingin
Papi mengambil ponsel di saku celananya, Dilla sudah menebak jika ayahnya hendak menghubungi rekan bisnisnya untuk membicarakan perjodohan ini. Tetapi ia dan Angga hanya terdiam mematung seakan tak mampu menahan keputusan Papi.“Papi… mungkin bisa dipikir-pikir lagi, jangan ambil keputusan karena e
Dilla melangkah masuk ke ruang tamu rumah orang tuanya dengan jantung yang bertalu hebat. Marmer dingin di bawah kakinya seolah memancarkan aura ketegangan yang merambat ke seluruh ruangan. Di sana, di atas sofa jati ukiran Jepara yang megah, Ayahnya duduk dengan punggung tegak dan wajah yang kaku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews