LOGINFaradilla Agatha punya segalanya, kecuali satu: Angga Prasetya. Dulu, Dilla membuang Angga karena status sosial yang tak setara. Kini, saat ia menyadari bahwa hanya ketulusan Angga yang ia cari, sebuah cincin emas di jari manis pria itu menghancurkan harapannya. Angga bukan lagi pemuja yang mudah ditaklukkan. Ia membentengi hatinya dengan sebuah pertunangan sandiwara, lelah hanya dijadikan pelarian. Namun, kehilangan kemewahan dan diusir dari rumah justru membakar obsesi Dilla. Di sebuah rumah kecil pinggiran kota, sang mantan influencer ini bertekad merebut kembali miliknya. Dilla tak peduli dicap egois atau menjadi orang ketiga. Baginya, Angga adalah dosa yang sengaja ia pilih. Sanggupkah Dilla meruntuhkan benteng Angga, atau justru ia yang hancur oleh sandiwara yang ia percayai?
View MoreSinar matahari sore itu terasa terik dan menyengat, kontras dengan suasana hati Dilla yang sedang menuju sebuah toko percetakan di pinggir jalan raya untuk memesan menu baru kafe. Namun, langkahnya terhenti saat melihat mobil yang sangat ia kenali terparkir di depan sebuah butik pengantin yang tak jauh dari sana.Angga berdiri di samping mobil itu, tampak rapi dengan kemeja yang pas di tubuhnya. Ia sedang menunggu Faradiba yang baru saja keluar dari butik dengan menjinjing beberapa kantong besar. Senyum Faradiba begitu cerah, sementara Angga membalasnya dengan anggukan tipis yang bagi orang awam terlihat seperti kesopanan, namun bagi Dilla, itu adalah belati yang perlahan mengiris harapannya.Dilla mencoba menunduk, mempercepat langkah agar tidak terlihat. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya."Dilla?" suara melengking Faradiba menghentikan langkahnya.Dilla terpaksa menoleh dan memasang senyum paling palsu yang pernah ia miliki. "Ah, Bu Fara. Pak Angga."Faradiba melang
Aroma tanah basah setelah hujan sore itu menyelinap masuk melalui jendela ruang belakang kafe, membawa hawa dingin yang kontras dengan suasana hangat yang mulai menyala di area depan. Dilla menatap tumpukan piring yang baru saja selesai ia bersihkan. Jemarinya yang kini terasa sedikit perih karena sabun cuci adalah pengingat harian bahwa hidupnya telah berubah total. Tidak ada lagi kenyamanan masa lalu; yang ada hanyalah realita kasar yang harus ia hadapi setiap hari sebagai helper di kafe milik tunangan pria yang ia cintai.Logika Dilla terus berteriak, mengingatkan bahwa setiap detik yang ia habiskan di gedung ini adalah sebuah kesalahan. Berada di bawah pengawasan Faradiba sama saja dengan menaburkan garam di atas luka yang belum kering. Nama wanita itu seperti duri halus yang selalu menusuk tepat saat Dilla merasa sudah cukup kuat untuk bertahan. Kemarin, pemandangan Faradiba yang merangkul lengan Angga dengan begitu posesif masih membekas jelas di benaknya. Realita itu menghantam
Dunia seolah berhenti berputar. Nampan di tangan Dilla bergetar hebat, membuat es batu di dalam gelas Americano berdenting riuh. Wanita di balik meja itu, Faradiba, menatap Dilla dengan ketenangan yang mengerikan."Letakkan saja di meja, Dilla. Jangan sampai tumpah," ucap Faradiba halus, namun setiap katanya terasa seperti perintah militer.Dilla melangkah maju dengan kaku. Saat ia meletakkan nampan, matanya tak sengaja melirik bingkai foto di meja. Foto Angga yang tertawa lepas. Hati Dilla mencelos; itu adalah tawa yang dulu hanya miliknya, dan kini tampak begitu asing."Sungguh tidak kusangka kita akan bertemu disini," Faradiba menyandarkan punggungnya, menatap Dilla dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Manajerku bilang kamu punya potensi. Tapi bagiku, kamu hanya staf baru yang harus membuktikan diri. Jadi, silakan kembali ke bawah. Meja nomor lima butuh perhatianmu."Dilla tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan segera keluar dari ruangan yang terasa menyesakkan itu.Sisa hari itu b
Sinar matahari menyelinap melalui celah gorden katun di kamar Dilla. Tidak ada lagi asisten yang menyanyi kecil sambil membuka tirai otomatis, tidak ada aroma kopi arabica dan english breakfast yang diantarkan ke tempat tidur, dan yang paling nyata: tidak ada keheningan mewah. Sebaliknya, suara tukang sayur yang berteriak di depan pagar dan deru motor tetangga yang memanaskan mesin menjadi alarm alaminya.Dilla menggeliat, punggungnya terasa kaku karena kasur yang ia tiduri mulai terasa tidak nyaman. Ia menatap telapak tangannya. Kuku-kuku yang biasanya dihias nail art mahal kini polos, bahkan ada sedikit sisa sabun cuci di sela-selanya. Seminggu telah berlalu sejak ia memutuskan angkat kaki dari kenyamanan Menteng.Kesehariannya berubah total. Kini, kegiatannya bukan lagi hangout bersama rekan selebgram yang selalu ia banggakan, melainkan menghitung lembar demi lembar uang di dompetnya. Dari sisa tabungan 300 juta yang ia gunakan, Dilla sadar ia tidak boleh impulsif. Inflasi dan gaya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews