Pagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan
Last Updated : 2026-04-14 Read more