LOGINRaisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
View MorePagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan
Hujan turun deras malam itu, seolah kota sedang mencuci dosanya sendiri.Pintu rumah sakit jiwa terbuka paksa. Alarm sempat berbunyi, tapi tak ada yang cukup cepat menghentikan Pratiwi. Rambutnya terurai acak, matanya kosong.namun di balik kekosongan itu, ada satu tujuan yang menyala terang.“Mas Darma…” gumamnya berulang, seperti doa yang salah alamat.“Kamu menghacurkan hidup ku.”Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung perkantoran elit, Darma duduk santai di ruang meeting privat. Jasnya rapi, senyumnya terlatih. Di seberangnya, seorang perempuan cantik investor atau calon mangsa, tak ada bedanya bagi Darma.“Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua,” kata Darma lembut. “Saya selalu memastikan partner saya merasa aman.”Perempuan itu tersenyum. “Anda memang… meyakinkan.”Darma terkekeh kecil. “Itu kelebihan saya.”Pintu ruangan terbuka perlahan tak ada yang curiga.Pratiwi melangkah masuk. Gaunnya kusut, napasnya teratur terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya hancur.Da
Ruang ICU itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Digta terbaring tak bergerak. Selang-selang menempel di tubuhnya, mesin berdetak pelan seolah menggantikan napas dan detak jantungnya. Wajahnya pucat, jauh dari Digta yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali.Di luar ruangan, Raisa duduk terpaku. Tangannya menggenggam tas erat-erat, matanya kosong. Sejak ambulans membawanya pergi, dunia Raisa seperti berhenti bergerak.Langkah kaki mendekat.“Cha…”Raisa menoleh. Bambang berdiri di hadapannya, wajahnya lelah, matanya merah.“Bang…” suara Raisa serak. “Digta kenapa?” Tanya Bambang.Raisa menghela napas panjang. “Koma. Dokter bilang… kita cuma bisa nunggu.” Bambang menunduk ,Raisa terdiam, Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.“Pelakunya?” tanya Bambang pelan.“Masih dicari,” jawab Raisa. “Mobilnya kabur.” sabung Raisa.Hening jatuh di antara mereka. Suara mesin ICU terdengar makin nyaring.“Cha,” Bambang duduk di samping Raisa. “Ada
Warung kopi itu hampir kosong. Hujan rintik jatuh pelan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan atau justru menekan. Digta duduk berhadapan dengan Bambang, menatap cangkir kopi yang sudah dingin.“Jadi,” Bambang memecah keheningan, “Lu nggak jadi jujur sama Raisa, Ta?”Digta menggeleng. “Nggak gue sengaja.”“Kenapa?”“Gue takut,” jawab Digta jujur. “Kalau gue jujur sama dia sekarang, gue takut kehilangan dia,.”Bambang menyandarkan badan. “Berarti lu serius cinta sama dia ta,”Digta mengangkat wajahnya. “Aku mau lamar dia, Bang.”Bambang terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya.”“Tapi gue masih merahasiakan,” lanjut Digta. "Raisa nggak tahu apa-apa.”“Cincin?”“Sudah gue siapin” Digta mengangguk. “Aku mau yang sederhana. Bukan mahal, tapi niatnya jelas.”Bambang tertawa kecil. ”Kalau butuh bantuan bilang,"Digta menggeleng pelan. “Nggak. Kali ini biar gue persiapkan sendiri.”Bambang menatapnya lebih serius. “Lu yakin dengan keputusan ini?”Digta menarik n
14 Bulan Sebelum Sidang Perceraian. "Ah... ah... agh, Mas..." Desahan Pratiwi menggema, membakar gairah Darma. "Aghh... sayang..." Darma membalas, napasnya memburu. Gerakannya semakin cepat, membawa mereka ke puncak kenikmatan. "Aghh.... aaah..." Darma ambruk di samping Pratiwi. Mereka bertatapa
Sekarang, dia bisa mencari komik tanpa takut berpapasan dengan Digta dan Diana. Raisa melenggang menuju tempat buku-buku komik berada, tiba di sana dengan perasaan senang."Hmm, Naruto," Langsung saja Raisa melihat dan memilih beberapa buku komik."Kayaknya nggak, bukan Naruto,""Eugh, Eljiro Saito
Kembalikan anakku!" ungkap Raisa sedikit histeris, suaranya memecah kesunyian malam. Air mata Raisa mengalir deras, hatinya begitu hancur, masa-masa bahagia itu kini berubah menjadi kenangan yang menyesakkan.Sekarang, Adam sudah tak ada lagi. Dia meninggalkan Raisa untuk selama-lamanya, menyisakan
Raisa Termenung melamun duduk di tepi tempat tidurnya,Raisa masih terkurung dalam kamarnya, sebuah penjara sunyi yang dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Dia hanya bisa termenung, larut dalam lautan kesedihan yang tak bertepi."Auuuu....""Auuuu...."Lolongan anjing itu memecah keheningan menambah ke












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.