Tubuh Kinanti masih bergetar di atas Leon, napasnya tersengal, payudaranya menempel erat pada dada pria itu. Tapi Leon belum selesai. Matanya yang biru, menatap ibu dari teman baiknya itu. Ia membalikkan posisi dengan lembut, menempatkan Kinanti telentang di atas seprai sutra yang basah, kakinya terbuka lebar, rambut hitamnya tergerai seperti kipas di bantal. Leon berada di atasnya lagi, posisi misionaris klasik, tapi kali ini dengan tujuan yang jauh lebih dalam. “Aku ingin kamu rasakan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya,” bisik Leon, suaranya dalam, tenang, dan penuh rahasia. “Ini bukan sekadar kenikmatan biasa, Kinanti. Ini… pasti akan buat kamu suka.” Kinanti tertawa kecil, mengira itu candaan. "Luar biasa? Ok. Aku ingin tahu, seperti apa luar biasanya." Tapi senyumnya memudar saat Leon memasuki dirinya lagi, perlahan, sangat perlahan, hingga setiap inci terasa seperti jarum emas yang menusuk saraf kenikmatan. Ia tidak hanya masuk, ia menjangkau. Dengan presis
Last Updated : 2026-04-18 Read more