LOGINLeon sangat marah dengan pernikahan ayahnya. Dia terus menolak ibu tirinya, apapun pendekatan yang dilakukan ibu tirinya itu. Karena tidak mau didekati oleh ibu tirinya, Leon mengikuti saran temannya untuk melakukan pelecehan supaya ibu tirinya takut untuk mendekatinya. Tapi, nasehat itu justru membuat hubungan Leon dan ibu tirinya berkembang menjadi berbeda dari yang diinginkan Leon. Apakah yang terjadi?
View MoreDi depan rumah Surya, suasana menjadi sangat diam. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di taman kecil. Reva berdiri di ambang pintu, Surya di sampingnya, sementara Leon berdiri beberapa langkah di depan mereka dengan wajah yang campur aduk antara putus asa dan tekad.“Reva, aku minta kesempatan sekali lagi,” kata Leon, suaranya serak. “Aku sadar. Aku sudah jatuh cinta lagi padamu. Benar-benar.”Surya menatap Reva, tidak memaksa, hanya menunggu. Reva menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.“Leon, aku sudah memilih Surya,” katanya tegas. “Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kembali. Kamu terlalu sering menyakitiku. Kamu selingkuh, kamu masih memikirkan Sonya, dan aku selalu jadi nomor dua.”Leon menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menyerah.“Aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi Reva… sebelum kamu benar-benar pergi, dengar aku sekali saja. Ingat masa kita dulu.”Reva ingin menutup pintu. Ia ingin mengakhiri
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui gorden kamar Surya. Reva membuka mata pelan. Tubuhnya terasa hangat, masih berada dalam pelukan Surya. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menatapnya dengan senyum yang tenang.“Pagi,” bisik Surya sambil mengusap rambut Reva.Reva tersenyum kecil, masih setengah mengantuk. “Pagi…”Surya mencium keningnya. “Aku sudah siapkan sesuatu. Jangan turun dulu.”Ia bangun dari ranjang, mengenakan celana pendek, lalu keluar kamar. Beberapa menit kemudian, Surya kembali membawa nampan kayu. Di atasnya ada sarapan lengkap: roti panggang, telur, potongan buah, dan dua cangkir kopi susu yang masih mengepul. Di samping nampan, ada vas kecil berisi bunga mawar putih dan merah yang masih segar.Reva terkejut. “Kamu… sudah siapkan ini semua?”Surya tersenyum. “Aku bangun pagi-pagi. Aku ingin kamu bangun dengan sesuatu yang manis.”Mereka sarapan di ranjang. Surya sesekali menyuapi Reva, dan Reva membalas dengan tawa kecil. Suasana pagi itu terasa ringan, jau
Setelah ronde woman on top, Reva masih tergeletak di dada Surya. Tubuh mereka basah keringat. Surya mengusap punggung Reva pelan, lalu berbisik,“Mandi dulu. Biar segar.”Reva mengangguk. Mereka bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi yang cukup luas. Surya menyalakan shower rain di atas. Air hangat segera mengguyur tubuh mereka.Reva berdiri di bawah guyuran air, membiarkan rambutnya basah. Surya berdiri di belakangnya sebentar, menyabuni punggung Reva dengan gerakan lembut. Lalu ia memutar tubuh Reva hingga menghadapnya.Mereka saling menatap di bawah air hangat. Surya menunduk, mencium Reva. Ciuman itu basah, bercampur air shower. Lidah mereka saling mencari. Tangan Surya turun ke bokong Reva, mengangkatnya sedikit.Reva membalas ciuman dengan lebih berani. Ia melingkarkan tangan di leher Surya. Batang Surya yang sudah mengeras lagi menekan perut bawah Reva.Surya mengangkat satu kaki Reva, menyandarkannya di pinggulnya. Dengan tangan satunya ia mengarahkan batangnya, lalu me
Billy tertidur pulas di samping Reva, napasnya teratur. Reva membuka mata, menatap langit-langit kamar hotel yang gelap. Ada kekosongan yang tiba-tiba datang. Tubuhnya masih terasa hangat dari sentuhan Billy, tapi hatinya kosong.Ia tahu Leon sekarang sering berganti-ganti wanita. Rasa kecewa itu belum hilang. Reva ingin membalas, ingin membuat Leon merasakan apa yang ia rasakan. Tapi bersama Billy malam ini… rasanya tidak cukup. Tidak ada yang berubah di dalam dirinya.Pelan-pelan Reva bangun. Ia memakai baju, mengambil tas, lalu keluar dari kamar tanpa membangunkan Billy. Di parkiran, ia menaiki mobilnya dan mulai memutar-mutar Jakarta di malam yang sudah larut.Jalanan relatif sepi. Reva tidak tahu mau ke mana. Ia hanya membiarkan mobil berjalan. Di sebuah trotoar yang agak terang, ia melihat motor yang dimodifikasi menjadi gerobak kopi mini. Seorang pria muda berdiri di sampingnya, sedang merapikan gelas. Dagangannya sepi.Pria itu cukup tampan. Rambutnya rapi, wajahnya bersih, da
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.