"Gosok lebih keras, Nomor 302! Kau pikir kau sedang membelai wajahmu di depan kamera? Lantai ini tidak butuh filter, dia butuh tenaga!"Suara lengkingan itu menghantam gendang telinga Mariska, lebih tajam daripada deru sepuluh mesin cuci tua yang sedang berputar di ruang binatu lapas wanita pagi itu.Mariska, yang kini hanya dikenal sebagai narapidana nomor 302, tersentak. Tangannya yang dulu rutin menjalani perawatan parafin seharga jutaan rupiah di salon kelas atas, kini tampak mengerikan. Kulitnya pecah-pecah, kapalan, dan memerah akibat paparan detergen kimia murahan yang keras.Ia membungkuk di atas lantai ubin yang licin dan berlumut, memegang sikat plastik kasar. Tidak ada lagi gaun sutra atau wangi parfum desainer yang menempel di tubuhnya. Yang ada hanyalah seragam tahanan berwarna biru pudar yang bau apeknya tak pernah benar-benar hilang meski sudah dicuci berkali-kali."Maaf, Kak... aku... aku akan lebih cepat," bisik Mariska. Suaranya
Última atualização : 2026-05-29 Ler mais