Share

61. HUKUM RIMBA

Author: FWW
last update publish date: 2026-05-28 23:07:16

Lampu neon di koridor Bangsal Isolasi RS Penjara berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang merayap di dinding.

Suara mesin monitor jantung di samping tempat tidur Bimo berbunyi ritmis, sebuah detak mekanis yang kaku di tengah kesunyian malam yang mencekam.

Bau karbol yang tajam bercampur dengan aroma anyir obat-obatan menciptakan atmosfer yang menyesakkan paru-paru.

Bimo terbaring lemah. Mantan master bela diri yang dulunya ditakuti itu kini hanyalah seo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   (S2) 19. THE DISCOVERY

    "Siapkan laptopmu, Reihan. Kita baru saja melangkah masuk ke dalam perut monster yang sesungguhnya."Peringatan Tuan Penjaga bergema rendah, nyaris tenggelam oleh deru napas Reihan yang memburu. Mereka mulai menuruni undakan tangga beton yang dingin dan lembap.Di depan mereka, seberkas cahaya putih dari senter taktis Tuan Penjaga membelah kegelapan yang pekat, menyingkap dinding-dinding semen telanjang yang tidak dilapisi cat. Setiap langkah sepatu taktis mereka yang beradu dengan semen menghasilkan gema tipis yang janggal, seolah-olah ruang bawah tanah ini sengaja dirancang untuk meredam jeritan.Ketika mereka mencapai dasar tangga, deretan lampu tabung fluresen di langit-langit mendadak menyala otomatis, memancarkan cahaya putih steril yang menyilaukan mata.Reihan tersentak, refleks menutupi wajahnya dengan lengan. Saat matanya berhasil menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya, darahnya seakan membeku.Ruangan di hadapan m

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   (S2) 18. TACTICAL INFILTRATION

    "Besok siang, saat sosiopat itu sibuk memikirkan Aura di ruang rapatnya, kita akan merangsek masuk secara fisik ke dalam rumahnya. Kau akan memasang alat pelacak fisik langsung pada server lokal di lantai tersembunyi itu."Kalimat final Tuan Penjaga semalam menjelma menjadi kenyataan yang mencekik pada pukul 13.15 siang ini. Udara di dalam kabin van logistik terselubung yang terparkir tiga ratus meter dari perimeter mansion Julian terasa pengap oleh ketegangan. Reihan menarik napas dalam-dalam, merasakan rompi taktis hitam tanpa atribut—ghost gear—terasa berat menekan dadanya.Sebagai peretas yang terbiasa bertarung dari jarak aman di balik kehangatan layar monitor, berada langsung di garis depan medan fisik seperti ini membuat jantungnya bertalu liar, menghantam rusuknya tanpa ampun."Tim lapangan mengonfirmasi melalui interkom," suara Tuan Penjaga memecah keheningan, memutus kepanikan internal Reihan. Pria paruh baya itu sed

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   (S2) 17. DARK GALLERY

    Click. Click. Click.Jemari Reihan bergerak dengan ritme yang konstan, mengeksekusi rentetan skrip eksploitasi siber tingkat tinggi di tengah keheningan hangar Unit 0 yang mencekam. Pukul dua dini hari. Pendaran biru dari monitor menyinari wajahnya yang pias, memantulkan bayangan tajam yang menari-nari di dinding beton.Setelah tiga belas menit jalur siber rumah Julian Drax menganga akibat kebocoran IP address sebelumnya, pertahanan enkripsi kediaman mewah itu kini runtuh satu per satu seperti deretan kartu domino."Sistem keamanan berlapis firewall perimeter luar... tumbang," desis Reihan. Suaranya rendah, hampir menyerupai bisikan, tertelan oleh desing halus kipas superkomputer di bawah meja. "Aku memotong jalur enkripsi CCTV lokal. Kita masuk, Tuan Penjaga."Layar utama di hadapan mereka mendadak terbelah menjadi dua belas jendela video langsung (live feed). Satu per satu ruangan di dalam mansion megah yang terletak di perbukitan terisolas

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   (S2) 16. THE PHANTOM TRACE

    Pendaran biru dari deretan monitor komputer memantulkan bayangan dingin di wajah Reihan. Di dalam ruang kerja yang gelap gulita itu, hanya ada suara desing halus kipas CPU yang berputar konstan, beradu dengan ketukan ritmis jemarinya di atas keyboard.Aroma kopi hitam yang mulai mendingin dan mengental di sudut meja mengiringi pergerakan baris demi baris kode data di layar. Indikator aktivitas digital targetnya berkedip-kedip, memancarkan warna merah yang agresif.Log aktivitas siber milik Julian merayap naik, menembus grafik normal di larut malam yang sunyi ini.Reihan menghentikan ketukannya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan tubuhnya ditelan kegelapan saat matanya tetap mengunci layar utama.Melalui software pengawasan terenkripsi yang ditanamnya, Reihan bisa melihat apa yang sedang terjadi di seberang sana secara real-time.Julian tidak lagi menyentuh dokumen bisnis. Pria itu telah mengabaikan tumpukan surat elektronik kantorny

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   (S2) 15. THE TRAP IS SET

    "Nyalakan servernya, Reihan. Mari kita ciptakan 'Aura' di dunia maya, dan biarkan monster yang sedang terluka itu menggigit umpan kita hingga ke hulu ledaknya."Perintah Tuan Penjaga langsung disambut oleh hantaman jemari Reihan pada tombol pengaktifan server sekunder Unit 0.Ruang hangar yang remang seketika diterangi oleh pendaran cahaya biru dari belasan monitor yang memuat puluhan ribu baris kode pemodelan generatif hiper-realistis.Keheningan yang mencekik di dalam ruangan itu berganti menjadi sebuah kalkulasi digital yang dingin dan mematikan. Mereka tidak lagi sekadar bertahan. Mereka sedang merajut jaring laba-laba untuk menjerat seorang predator yang terluka."Memulai pembuatan basis data profil," suara Reihan terdengar mekanis, berkejaran dengan deru kipas superkomputer yang berputar di batas maksimal."Aku tidak menggunakan wajah dari orang yang benar-benar hidup, Tuan Penjaga. Julian terlalu cerdas. Jika dia melakukan pencaria

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   (S2) 14. PSYCHOLOGICAL WAR

    Jemari Reihan bergerak laksana badai di atas papan ketik, mengeksekusi baris-baris kode skrip yang langsung menyusup ke dalam server terdalam Drax Enterprises. Di bawah temaram lampu hangar Unit 0, wajahnya tampak pias namun memancarkan aura dingin yang mengerikan. Di layarnya, algoritma AI canggih sedang bekerja memotong, membedah, dan merekonstruksi sebuah mahakarya lukisan digital milik Julian Drax. "Aku tidak hanya mengirimkan foto ibunya, Tuan Penjaga," desis Reihan, senyum tipis yang sarat akan kepuasan kejam terukir di sudut bibirnya. "Itu terlalu murahan untuk seniman sombong seperti dia. Aku sedang melakukan restorasi digital yang akan langsung menusuk pada jiwanya." Reihan mengunci pandangannya pada lukisan fiktif kesayangan Julian yang melambangkan keabadian wanita. Sebuah karya Barok dengan pencahayaan chiaroscuro yang sempurna. Melalui perintah AI, Reihan menyuntikkan detail-detail nekrosis jaringan, distorsi k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status