Mariska merobek kain seprai putih kasar dengan gigi dan jemarinya yang gemetar, menciptakan suara sobekan yang terdengar seperti jeritan di dalam sel isolasi yang sunyi.Matanya liar, merah, dan dipenuhi kabut keputusasaan yang tidak lagi bisa dibendung. Baginya, tembok semen dingin ini bukan lagi sekadar penjara fisik, melainkan makam bagi egonya yang dulu setinggi langit.Ia tidak bisa lagi menanggung bayangan wajahnya di cermin kecil penjara. Wajah yang dulu dipuja jutaan pengikut, yang dirawat dengan prosedur mahal setiap bulan, kini terlihat kusam, tirus, dan asing.Ia merindukan kilatan lampu ring light, ia merindukan pujian palsu di kolom komentar, dan ia sangat membenci kenyataan bahwa ia kini hanyalah seonggok daging tak berharga yang menunggu hari kebebasan."Lebih baik mati daripada menjadi sampah seperti ini," isyaknya, suaranya parau karena berhari-hari hanya digunakan untuk meratap.Dengan kaki yang bergetar hebat, ia menaik
最終更新日 : 2026-05-26 続きを読む