Begitu Pak Irfan mengucapkan hal itu, aku yang baru saja meletakkan bayi dan hendak merapikan pakaian, langsung terhenti.Aku menatap pria di hadapanku dengan sorot mata membara itu, dan tiba-tiba rasa takut muncul dalam hatiku."Ng-nggak bisa, Pak Irfan … tadi aku cuma … cuma bercanda .… "Aku buru-buru menggeleng dengan wajah memerah, menolak permintaannya.Melihat penolakanku, Pak Irfan malah berkata dengan serius, "Aku nggak punya maksud lain. Aku mau minum itu hanya untuk … untuk pengobatan, iya, pengobatan!""Tenggorokanku lagi kurang enak. Kata dokter, minum ASI bisa membantu. Tapi tenang aja, aku nggak akan minta gratis. Sekali minum 40 juta, gimana?"Awalnya berpura-pura menyedihkan, lalu mencoba membujuk dengan imbalan.Meski aku tahu alasan Pak Irfan tidak sepenuhnya benar, menghadapi tawaran seperti itu, aku tetap ragu."Ka-kalau begitu … baiklah, Pak Irfan … ambil mangkuk aja, nanti aku peras untukmu."Aku berkata dengan wajah memerah, tetapi Pak Irfan langsung menolak teg
Baca selengkapnya