LOGINSaat melihatku dengan kaki terbuka lebar dan tubuh yang menempel pada Pak Irfan, Shinta langsung terpaku di tempat.Sementara aku, benar-benar terdiam seribu bahasa ketika melihat suamiku berdiri di samping Shinta."Sedang apa kalian?!"Shinta tersadar dan berteriak histeris, suaranya menggema di seluruh ruangan.Seperti orang kehilangan kendali, dia berlari ke arah kami sambil mengayunkan tasnya. Dia memukul dan merusak apa pun yang ada di dekatku dan Pak Irfan.Sementara suamiku berdiri di tempat dengan wajah muram dan dingin.Aku sempat berpikir, setidaknya Pak Irfan akan melindungiku saat ini.Namun di luar dugaan, dia tidak berdiri di depanku, malah langsung berlutut di hadapan Shinta."Maaf, Sayang … semuanya gara-gara dia. Dia yang godain aku!"Pada saat itu, aku benar-benar terpaku.Aku tak pernah menyangka, pria yang berkali-kali menyeretku ke dalam hubungan ini justru melemparkan semua kesalahan padaku."Perempuan murahan! Nggak tahu diri!"Kata-katanya jelas berhasil mengali
Aku bilang pada suamiku bahwa karena sikap dinginnya selama ini, aku terpaksa mencari pelampiasan sendiri. Aku bahkan sampai menyiksa tubuhku demi mengisi kekosongan dalam diriku.Entah karena ekspresiku yang terlihat terlalu menyedihkan, atau karena kebohonganku terdengar begitu meyakinkan, meski suamiku masih agak curiga, jelas dia tidak lagi semarah sebelumnya."Maaf ya …. "Melihat aku berbicara sambil meneteskan air mata, hatinya pun melunak dan dia kembali memelukku."Ini semua salahku .… "Dia memelukku erat, mencium air mata di sudut mataku, tapi hatiku justru dipenuhi rasa bersalah terhadapnya.Menjelang dini hari, suamiku tidur dengan lelap, sementara aku justru gelisah tak bisa tidur.Hingga keesokan paginya, aku mengambil keputusan untuk memutus hubungan dengan Pak Irfan.Walau dia bisa memberiku kebahagiaan, aku tetap tak ingin melepaskan kehidupan yang kumiliki sekarang. Aku tahu betul, jika suamiku mengetahui hal ini, konsekuensinya akan sangat berat.Aku mengirim pesan
Dalam perjalanan pulang, uang tunai yang diberikan Pak Irfan masih tersimpan di sakuku, tetapi pikiranku terasa kosong dan tidak fokus.Aku adalah istri dari suamiku, ibu dari anakku, aku memiliki keluargaku sendiri.Namun hari ini, aku telah mengkhianati semua itu. Meskipun dalam prosesnya aku menikmati kebersamaan dengan Pak Irfan, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan .…"Udah pulang?"Setibanya kembali di rumah, menghadapi suami dan bayi yang menangis minta disusui, aku menjadi sangat penurut, seperti seorang istri yang menyimpan rahasia.Begitu penurut hingga suamiku tidak menyadari adanya keanehan sedikit pun."Udah waktunya nyusuin anak."Suamiku mengingatkanku.Namun, aku sudah membawa pakaian ganti dan berdiri di depan pintu kamar mandi."Aku capek, mau mandi dulu."Melihat wajahku yang tampak lelah, suamiku tidak banyak bicara. Tapi saat berada di kamar mandi, aku justru merasa sangat hancur.Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi suamiku, diriku sendiri, dan anakku. Bahkan
"Jangan!"Aku berusaha menolak sekuat tenaga, tetapi tubuhku tetap tak mampu menahan dorongan Pak Irfan yang begitu kuat.Sensasi yang sudah lama tidak kurasakan membuatku perlahan tenggelam.Di satu sisi aku menginginkan kepuasan itu, tetapi di sisi lain aku tak bisa melepaskan suami dan keluargaku.Tidak … ini tidak boleh .…Aku menggigit bibir erat-erat, menahan segala reaksi di tengah gelombang perasaan yang begitu kuat, berusaha agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.Namun, tubuhku justru makin tidak terkendali .…Pak Irfan bergerak dengan kasar, sementara tangannya mencengkeram leherku dengan kuat."Bukannya tadi nggak mau? Kenapa sekarang malah kayak gini?"Menghadapi sikapnya yang keras dan memaksa, aku sebenarnya ingin melawan.Namun sensasi sesak dan gelombang perasaan yang datang bertubi-tubi membuatku kehilangan kendali, seolah-olah terseret arus tanpa mampu berbuat apa-apa.Keluarga, suami, dan anak … saat itu semuanya sudah tak ada lagi dalam pikiranku."Suamimu belum
Begitu Pak Irfan mengucapkan hal itu, aku yang baru saja meletakkan bayi dan hendak merapikan pakaian, langsung terhenti.Aku menatap pria di hadapanku dengan sorot mata membara itu, dan tiba-tiba rasa takut muncul dalam hatiku."Ng-nggak bisa, Pak Irfan … tadi aku cuma … cuma bercanda .… "Aku buru-buru menggeleng dengan wajah memerah, menolak permintaannya.Melihat penolakanku, Pak Irfan malah berkata dengan serius, "Aku nggak punya maksud lain. Aku mau minum itu hanya untuk … untuk pengobatan, iya, pengobatan!""Tenggorokanku lagi kurang enak. Kata dokter, minum ASI bisa membantu. Tapi tenang aja, aku nggak akan minta gratis. Sekali minum 40 juta, gimana?"Awalnya berpura-pura menyedihkan, lalu mencoba membujuk dengan imbalan.Meski aku tahu alasan Pak Irfan tidak sepenuhnya benar, menghadapi tawaran seperti itu, aku tetap ragu."Ka-kalau begitu … baiklah, Pak Irfan … ambil mangkuk aja, nanti aku peras untukmu."Aku berkata dengan wajah memerah, tetapi Pak Irfan langsung menolak teg
Apa maksud Pak Irfan ini? Apa dia tahu aku mengintip, jadi sengaja mengatakannya agar aku dengar?Perilaku Pak Irfan yang tiba-tiba dan tidak biasa itu membuatku terkejut.Aku segera mengalihkan pandanganku, tak berani melihatnya lagi. Lalu aku buru-buru duduk kembali di samping ranjang bayi.Jantungku berdebar kencang.Mengingat alat Pak Irfan yang besar dan reaksinya yang mendadak tadi, membuatku merasa gelisah tak tenang.Aku segera menggendong bayi yang baru terbangun, menurunkan pakaian, dan membiarkan bayi itu menyusu lagi perlahan.Tidak apa-apa, tidak apa-apa, mungkin ini hanya kebetulan .…Seharusnya dia tidak sengaja mengatakannya untukku, 'kan?Sambil terus menenangkan diri, aku berusaha berpikir jernih. Namun, melihat bayi dalam pelukanku yang begitu mirip dengan Pak Irfan, pikiranku mulai berkelana liar, membayangkan dirinya yang menyusu di dadaku.Payudara Shinta, istrinya itu, begitu kecil. Aku yakin dia pasti sangat ingin merasakan sensasi lain dari wanita berdada monto







