Tiga bulan kemudian, pernikahan kami diadakan di kediaman pribadi Derry.Aku berjalan melewati lautan mawar putih, mengenakan gaun rancangan khusus, menuju altar.Derry berdiri di sana mengenakan setelan tuksedo berwarna hitam, matanya hanya tertuju padaku.“Kau sangat cantik sampai-sampai membuat hatiku terasa sakit,” bisiknya sambil menggenggam tanganku.Pendeta mulai mengucapkan sumpah.Tiba-tiba, pintu di belakang aula terbuka lebar.Luki tersandung, masuk dengan terhuyung, jasnya berantakan, sorot matanya liar.“Lisa!” teriaknya. “Kau tidak boleh menikah dengannya!”Semua tamu menoleh, suasana menjadi hening.“Orang yang kau cintai itu aku!” teriaknya. “Kau tahu itu! Kita punya sejarah!”Dua orang suruhan Derry langsung menghampiri Luki dan mencengkeram lengannya.“Lepaskan aku!” Luki meronta. “Lisa, lihat aku! Kau tahu aku masih di hatimu!”Aku menatapnya tanpa ekspresi.Derry melepaskan tanganku dan berjalan perlahan ke arah Luki.“Luki Mortario.” Suaranya terdengar dingin seola
Baca selengkapnya