Cahaya pagi perlahan menembus kabut tipis di Samudera Pasifik. Kapal pesiar mini milik William, yang selama beberapa hari terakhir menjadi rumah mereka di Pulau Paskah, kini mulai merapat ke dermaga Valparaiso. Dari kejauhan, kota pelabuhan itu tampak seperti kanvas hidup, rumah-rumah berwarna cerah menempel di perbukitan curam, tangga-tangga panjang menjalar ke segala arah, dan mural-mural besar menghiasi dinding bangunan tua.“Wow … lihat itu, Willy.” Amelia berbisik kagum sambil berdiri di dek kapal. Angin laut memainkan rambut panjangnya. “Benar-benar berbeda dengan suasana di Rapa Nui. Di sini lebih ramai, penuh warna, dan entah kenapa terasa romantis dengan caranya sendiri.”William tersenyum sambil memeluk pinggang istrinya. “Iya, Sayang. Valparaiso memang kota yang unik. Dari dulu tempat ini dikenal bohemian, penuh seni dan musik. Cocok banget buat melanjutkan bulan madu kita.”Tak lama kemudian, kapal bersandar. Kru kapal, yang setia menemani perjalanan mereka, menyiapkan b
더 보기