LOGINBacaan Dewasa 21 tahun ke atas. Akhirnya kisah cinta sang miliarder ternama, William Danielson bersama kekasihnya Amelia Joanna Lewis yang baru saja lulus kuliah di sebuah universitas di Benua Eropa, berlabuh juga di pelaminan. Sebuah pernikahan royal wedding yang begitu mewah dan megah telah dirancang dengan sangat sempurna untuk menyatukan ikatan suci pernikahan mereka, yang abadi selamanya. Begitu banyak tamu undangan yang datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan dari William dan Amelia. Setelah rentetan acara pernikahan selesai, William pun memboyong Amelia, sang istri untuk berbulan madu keliling dunia di berbagai negara dan objek wisata yang terkenal. Apakah perjalanan bulan madu yang keduanya lakukan berjalan mulus? Mungkinkah ada tantangan yang akan mereka hadapi selama menikmati perjalanan itu? Bagaimana dengan para mantan yang kecewa berat atas pernikahan William dan Amelia? Penasaran kelanjutannya? Yuk, silahkan dibaca! Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.
View More“William! Tunggu sebentar, Mommy akan memperbaiki dasimu,” tutur Nyonya Martha Danielson kepada putra tunggalnya. Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu hotel tempat William dan Amelia akan mengikat janji suci pernikahan mereka.
“Iya, Mommy.” jawab William Danielson, lalu membiarkan sang ibu memperbaiki letak dasinya yang sedikit miring. “Nah … ini baru sudah rapi!” tutur Nyonya Martha sambil tersenyum ke arah sang putra. “Anak Daddy sungguh tampan!” puji Tuan Amos Danielson. “Iya dong, Dad. Siapa dulu ibunya?” “Dan siapa dulu ayahnya!” “Ha-ha-ha!” Ketiganya pun tertawa bersama dengan penuh kebahagiaan. “Tak terasa akhirnya, hari ini kamu dan Amelia akan menikah. Mommy dan Daddy akan mendoakan kalian berdua. Semoga pernikahan kalian senantiasa diberikan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Jadilah kepala keluarga yang bijaksana untuk istrimu.” seru sang ayah. “Thank you support-nya, Dad. Aku akan ingat selalu semua nasihat dari Daddy.” sahut William kepada sang ayah. “Mommy juga turut mendoakanmu dan Amelia. Semoga kalian bahagia dan diberikan kesehatan yang prima. Mommy dan Daddy menunggu cucu dari kalian. Kamu tahu kan William? Kamu putra tunggal kami. Jadi Mommy mau request tiga orang cucu dari kalian!” sergah Nyonya Martha. “He-he-he! Banyak amat, Mom? Kenapa tidak sebelas orang saja? Sekalian aku bisa membentuk satu tim sepak bola,” canda William kepada ibunya. “Kalau kamu sanggup kenapa tidak, William? Mommy dan Daddy akan sangat senang memiliki banyak cucu. Daddy rasa, kamu juga sanggup mewujudkan semuanya. Tenagamu sangat kuat, bukan?” celutuk Tuan Amos. “Ha-ha-ha. Aku seorang olahragawan, Dad! Tentu saja tenagaku kuat. Tapi sebelumnya aku akan mendiskusikan hal ini kepada Amelia,” ujar William kepada kedua orang tuanya. “Mommy setuju, kamu memang harus membicarakan hal ini kepadanya. Karena Amelia lah yang hamil selama sembilan bulan.” “Siap, Mommy!” sahut William. Pernikahan William Danielson, seorang pengusaha sukses yang tinggal di Jakarta Indonesia dan Amelia Joanna Lewis, kekasihnya adalah sebuah perayaan cinta yang berlangsung di sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan. Pesta pernikahan ini bukan hanya sekedar pernikahan biasa, melainkan sebuah pernikahan royal wedding yang mewah dan elegan. Pintu masuk hotel tersebu telah dihiasi dengan bunga-bunga mawar putih dan lili yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Karpet merah yang panjang membentang dari pintu masuk hingga ke altar pernikahan, memberikan kesan seolah-olah kita berada di sebuah acara penghargaan Hollywood. Saat memasuki ruangan utama, mata para tamu undangan llangsung tertuju pada dekorasi yang megah. Langit-langit tinggi hotel tersebut telah dipenuhi dengan lampu kristal yang berkilauan, menciptakan suasana yang glamour dan mewah. Meja-meja tamu ditata dengan rapi, masing-masing diberi nama dengan tulisan tangan yang indah. Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah panggung besar dengan latar belakang bunga-bunga putih dan lampu yang berkilauan. Tamu-tamu yang datang adalah orang-orang terpilih, semuanya merupakan rekan bisnis dan kolega bisnis dari William Danielson selalu CEO dari WD Corp. Para tamu dan undangan tampak elegan dengan gaun dan jas mewah mereka. Suasana penuh kegembiraan dan harapan, setiap wajah menunjukkan kebahagiaan dan kekaguman atas keindahan dan kemegahan acara ini. Acara dimulai dengan kedatangan pengantin pria, William Danielson. “Hadirin sekalian, mari kita kita sambut mempelai pria, yang sangat tampan dan berwibawa … Tuan William Danielson!” seru sang master ceremony dengan suara lantang. Tuan Muda William Danielson tampak begitu sangat tampan dengan setelan jas hitamnya, rambutnya yang rapi dan senyum lembut di wajahnya. Sang pria mulai berjalan dengan percaya diri menuju altar, menunggu calon istrinya. Suara musik klasik nan romantis khas wedding party mulai berkumandang di area dalam ballroom hotel megah itu mengiringi langkah William menuju ke depan altar, di mana sang pemuka agama sedang menunggunya. “Wah … wajah mempelai pria sungguh berseri-seri. Sepertinya sudah tidak sabar melihat sang mempelai wanita. Baiklah … hadirin sekalian tanpa menunggu lama lagi, kita panggilkan mempelai wanita yang sungguh sangat cantik dan rupawan Nona Muda Amelia Joanna Lewis,” ujar sang MC masih dengan suara lantang. Tak berapa lama kemudian, Amelia Joanna Lewis muncul di pintu masuk. Gadis itu tampak seperti seorang putri dengan gaun pengantin putihnya yang indah, hasil rancangan desainer terkenal. Rambutnya dihiasi dengan mahkota bunga dan kedua tangannya memegang sebuah buket bunga mawar putih. Saat dia berjalan di karpet merah, semua mata tertuju padanya, seolah waktu berhenti sejenak. Mata Amelia tertuju ke depan altar di mana William, sang calon suami pria yang begitu sangat dicintai olehnya sedang berdiri tegak dengan senyum sumringah di sudut bibirnya. Tuan Hans Lewis dan istrinya, Nyonya Stella Lewis juga turut bahagia melihat putri kesayangan mereka akhirnya menikah juga dengan pria mapan dari keluarga Danielson. Setelah sampai di depan Altar, William terlihat meraih tangan calon istrinya Amelia. Keduanya sedang mendengarkan pemuka agama yang sedang memberi wejangan kepada kedua mempelai sebelum mereka mengucapkan janji suci pernikahan. Kemudian setelah itu, sang pemuka agama memberi aba-aba kepada keduanya untuk saling mengucapkan janji nikah. “Ananda William silahkan saling berhadap-hadapan dengan Ananda Amelia. Sekarang tiba saatnya bagi kalian untuk mengucapkan janji nikah dimulai dari Anda,” tutur pemuka agama sambil menatap ke arah mempelai pria. Lalu William pun mulai mengucapkan janji dengan suara tegas dan jelas serta berani, "Saya, William Danielson, telah memilih engkau, Amelia Joanna Lewis menjadi istri saya yang sah dan satu-satunya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai hanya maut yang memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus kepadamu." Lalu kemudian, tiba giliran mempelai wanita yang akan mengucapkan janji suci pernikahan. Masih dengan posisi saling berhadap-hadapan, Amelia pun menatap William, pria yang telah mencuri hatinya. Lalu dengan lembut sang mempelai wanita pun mulai mengucapkan janji nikah itu, dengan perasaan yang menghangat. "Saya, Amelia Joanna Lewis telah memilih engkau, William Danielson. Menjadi suami saya yang sah dan satu-satunya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai hanya maut yang memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus kepadamu." Lalu pemuka agama dengan lantang angkat bicara, "Demikian mereka bukan lagi menjadi dua melainkan satu. Jadi ... apa yang yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia."Pagi pertama William dan Amelia sebagai pasangan suami istri di Los Angeles datang dengan cahaya matahari yang lembut, menembus tirai kamar utama.Burung-burung kecil bertengger di pepohonan halaman mansion, berkicau riang seolah-olah ikut merayakan hari baru William dan Amelia.Amelia terbangun lebih dulu. Dia membuka mata perlahan, mendapati dirinya masih berada dalam pelukan William. Lengan suaminya melingkar hangat di pinggangnya, napasnya teratur, wajahnya tampak damai.Amelia tersenyum penuh kehangatan.Dia mengusap pipi William dengan lembut.“Willy, Sayang. Bangun, Honey.”William bergumam pelan.“Hmmmm. Susah pagi rupanya? Aku nyenyak banget tidurnya.”William membuka mata perlahan.Sesaat dia terlihat bingung, lalu matanya fokus pada wajah Amelia yang tersenyum.“Oh hai, Sayang. Selamat pagi, Istriku.”Amelia terkekeh kecil.“Selamat datang di hari pertama kita di mansion.”William menarik Amelia lebih dekat.“Dan hari pertama aku bangun sebagai suami di rumah sendiri.”Amel
Malam pun tiba, langit Los Angeles berkilau oleh cahaya gedung-gedung tinggi dan lampu jalan yang memantul di kaca mobil hitam panjang yang sedang membawa William dan Amelia beserta kru kapal menuju restoran tujuan.William duduk di kursi depan bersama Amelia, sementara para kru kapal memenuhi barisan kursi belakang. Suasana di dalam mobil terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya di laut. Lebih formal, tapi juga sarat kegembiraan.Amelia menoleh ke belakang, tersenyum hangat.“Terima kasih sudah ikut merayakan malam ini bersama kami. Tanpa kalian, perjalanan ini tidak akan pernah sempurna.”Esther tertawa pelan sambil merapikan gaunnya.“Kami yang berterima kasih, Mrs. Amelia. Ini pertama kalinya aku makan di restoran Michelin.”Adam, sang kapten, ikut menimpali.“Biasanya aku cuma makan mie instan di ruang kemudi.”Semua langsung tertawa.Kapten David menggeleng.“Jangan merendahkan dirimu begitu, Kapten. Kamu adalah pahlawan laut.”Olin menyeringai.“Dan aku pahlawan peta.”Marsha d
Langit Los Angeles pagi itu tampak cerah, biru bersih tanpa awan tebal. Angin laut berhembus lembut ketika kapal pesiar mini milik William perlahan mendekati dermaga. Mesin kapal diperlambat, tali-tali mulai disiapkan. Di kejauhan, garis pantai kota terlihat jelas. Gedung-gedung tinggi, jalan raya yang ramai, dan siluet khas kota yang selama ini hanya mereka lihat di artikel online.Akhirnya, kapal itu bertengger dengan anggun di dermaga Port of Los Angeles.Amelia berdiri di dek, tangannya menggenggam pagar kapal, matanya berbinar.“Willy, kita benar-benar sampai di LA,” ucapnya pelan.William berdiri di sampingnya, meraih tangan istrinya.“Iya. Ini tujuan terakhir perjalanan bulan madu kita, Sayang.”Para kru kapal mulai turun satu per satu. Kapten David lebih dulu menghampiri mereka, diikuti Kapten Adam dan beberapa kru lainnya. Wajah-wajah mereka tampak lega sekaligus bahagia.“Selamat, Tuan William, Nyonya Amelia,” ujar Kapten David formal, sambil menjabat tangan William erat.“K
Hari terakhir di Puerto Vallarta datang dengan cahaya pagi yang lembut, seolah kota itu sendiri ingin memberi perpisahan yang indah bagi William dan Amelia.Angin laut menyelinap melalui jendela vila, membawa aroma asin yang segar. Amelia berdiri di balkon, rambutnya digerakkan angin, sementara William menghampirinya dengan dua cangkir kopi hangat.“Untuk hari terakhir kita di sini, Sayang,” seru William sambil menyerahkan cangkir.Amelia tersenyum, menerima kopi itu dengan kedua tangan. “Aku ingin hari ini kita pelan-pelan saja. Menikmati semuanya.”Matahari belum terlalu tinggi saat mereka tiba di Malecon. Promenade tepi laut itu terlihat lebih hidup. Ada patung-patung modern berdiri anggun di sepanjang jalur, musisi jalanan memainkan gitar dan biola, pelukis melukis dengan sapuan warna berani. Ombak ikut berdebur lembut di kejauhan.William menggenggam tangan Amelia. “Aku suka tempat ini. Rasanya kota ini seperti sedang bernapas.”Amelia mengangguk. “Dan kita bisa ikut bernapas be
Acara pernikahan William dan Amelia masih berlangsung dengan begitu meriah dan megah. Tenda-tenda berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga yang beraneka ragam menambah keindahan suasana. Cahaya lampu yang berpendar lembut menambah suasana menjadi semakin hangat dan romantis.Setelah acara makan yan
Alex, teman kuliah Amelia, duduk di sebuah bangku dalam ruangan ballroom hotel bintang lima itu. Dia sedang menatap Amelia yang sedang duduk di pelaminan bersama William. Dengan gaun pengantin putih yang memukau, Amelia tampak seperti malaikat yang turun dari surga.“Amelia … kamu sungguh sangat ca
Di tengah hingar bingar pesta,Julius duduk di sudut sebuah meja makan, menatap gelas anggurnya yang berisi setengah penuh. Di sekelilingnya, suara tawa dan canda tawa bergema, namun Julius merasa seolah-olah dia berada di dunia yang berbeda. Pesta pernikahan William dan Amelia sedang berlangsung
Acara makan pun tiba,Pesta pernikahan William dan Amelia adalah perayaan yang meriah dan hangat, dihiasi dengan berbagai hidangan mewah yang mencerminkan kekayaan dan variasi kuliner Indonesia dan hidangan western. Tidak ada satupun tamu yang tidak terpesona dengan pemandangan meja yang dipenuhi d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews