“Ah, iya benar.” Rex menyetujuinya dengan cepat, ia menekuk kaki panjangnya dan berlutut di depan Eveline yang sibuk mengusap bagian yang nyeri itu. “T-tidak—” tolak Eveline dengan cepat. Ia menggeleng, berusaha bangkit. “Tidak separah itu juga, tidak sakit.” Kedua pipi Mario menggembung. Tangannya bersedekap, tampak tidak percaya dengan ucapan Eveline. Tapi baru saja hendak berdiri, Eveline memejamkan matanya. Menjaga ekspresi agar selaras dengan kalimat sebelumnya bahwa ia baik-baik saja. Namun, memungkirinya bagaimanapun, rasanya memang sangat sakit. Nyeri yang aneh, melilit dan panas. Dan sebelum ia benar-benar berdiri, Rex menahan tangannya. “Tunggu,” kata Rex seraya melepas kemejanya dengan cepat. “A-apa yang kamu lakukan?” Eveline bingung saat pria itu kini hanya mengenakan singlet putih yang melindungi bagian atas tubuhnya. Diletakkannya kemeja itu di atas rerumputan sebelum ia memandang Eveline dan mengatakan, “Duduklah.” “Aku bisa—” “Tolong.” Menatap
Last Updated : 2026-06-08 Read more