“Pak Zain …,” panggil Eveline lirih, suaranya bergetar menahan sisa isak tangis. “Sebenarnya, Sean sakit apa?” Zain menunduk,hela napasnya terdengar berat. “Tuan Sean tidak pernah mengatakannya secara gamblang pada saya, Nona. Tapi … melihat bagaimana tubuhnya kian menyusut, saya rasa beliau sedang berjuang melawan penyakit parah. Hanya saja, Tuan Sean memilih untuk menelan semua rasa sakit itu sendirian, tanpa pernah ingin dikasihani.” Eveline terpaku. Harusnya ia juga tahu akan hal itu bukan? Sean baru saja mengatakan padanya bahwa dokter memprediksi umurnya hanya tersisa dua bulan dari hari ini. Angin koridor rumah sakit yang berembus terasa begitu dingin, meresap hingga ke relung tulang. Waktu berjalan merangkak lambat, menyeret detik demi detik dalam kecemasan yang teramat panjang. Di luar jendela besar koridor rumah sakit, langit sore itu tampak kelabu, menggantung rendah, seolah ikut memikul beban duka yang menghimpit dada. Awan gelap berarak pekat, menumpahkan rintik huj
Ler mais