Pagi itu, kemarahan yang sejak semalam menumpuk di dalam dadanya akhirnya meledak begitu saja. Sarah kembali mengamuk sejadi-jadinya di atas ranjang rumah sakit. Frustrasi, putus asa, dan kebencian yang teramat pekat bergemuruh hebat di dalam dirinya, membuat hidupnya terasa begitu salah dan menyiksa. Ia membenci kegelapan ini, membenci tubuhnya yang cacat, membenci takdir yang mempermainkannya, dan yang paling utama, ia sangat membenci sisa hidupnya yang kini telah hancur total. Ia benci menjadi buta! Sarah meronta brutal, mencengkeram sprei kasur hingga robek, lalu melayangkan tangannya ke udara untuk melampiaskan amarah. Namun, gerakan liar itu membuatnya kehilangan keseimbangan. Bruk! Tubuhnya terpelanting jatuh dari atas tempat tidur, menghantam lantai keramik yang dingin dengan suara yang cukup keras. Siku dan lututnya berdenyut nyeri. Sarah meringkuk di lantai, menangis histeris sambil memukul-mukul lantai dengan kedua tangannya, meratapi betapa tidak berdayanya ia sek
اقرأ المزيد