“Untung ada kamu, Rian. Aku gak kebayang kalo kamu gak ada,” ucap Arum sambil memeluk leher Rian.”Aku selalu ada untukmu, Sayang. Kok kamu gemetar? Kenapa?” tanya Rian lembut.Arum masih memeluk Rian erat, seolah takut jika dia melepaskan pegangannya, lelaki itu akan menghilang kembali ke tengah bahaya."Aku pikir aku akan kehilanganmu, Rian," bisik Arum, suaranya bergetar di dada Rian yang masih panas.Rian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menangkup wajah Arum, menghapus sisa air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya.Tatapan Rian begitu dalam dalam, Arum bisa merasakan perbedaannya, kini aura dominasi terasa begitu kuat, membuat Arum merasa kecil namun sekaligus sangat diinginkan. Rian merebahkan tubuh Arum di atas sofa beludru panjang yang sangat empuk, lalu mengunci posisi wanita itu dengan tubuh kekarnya.“Selagi aku masih idup, tentu gak bakal kehilangan aku, Arum. Mau malam ini, juga nanti. Aku nikahi kamu setelah Risa,” ucap Rian rendah.“Pokoknya jangan tinggalin ak
Leer más