Shelly berbalik dan melangkah keluar.Sesampainya di dekat pintu, pandangannya tertuju pada sepasang sandal rumah bulu-bulu berwarna merah muda.Dia menoleh dan menatap Harrison. "Ada orang di kamarmu?""Nggak ada!" Harrison mengikuti arah pandangannya, lalu buru-buru berdalih, "Waktu aku pindah ke sini malam-malam, aku beli sandal di bawah. Ukuran cowok sudah habis, jadi aku beli seadanya."Sudut bibir Shelly berkedut. Alasan itu memang konyol, tapi kalau pelakunya Harrison, itu jadi terdengar masuk akal.Dia menutup pintu, lalu beranjak pergi untuk mengemudikan mobil pulang.Setelah beberapa hari Shelly mendiamkannya, Johan akhirnya kehilangan kesabaran lebih dulu. Dia mengajak Shelly makan siang bersama untuk membahas kerja sama.Kali ini Shelly menyanggupinya."Bu Shelly, apa perlu saya temani Anda ke sana?" tanya Lidya sebelum Shelly berangkat.Shelly menggeleng. "Nggak usah, aku bisa sendiri. Dokumen yang aku suruh siapkan tadi, apa sudah siap?"Lidya menyerahkan sebuah amplop co
続きを読む