Bai Yumeng meletakkan gelas anggurnya yang masih penuh, jarinya mengetuk pelan di tepi meja kayu. "Mo Yan itu... kau yakin dia bisa menahan diri? Begitu ada gadis cantik mendekat, mulutnya bisa keceplosan kapan saja.""Aku akan mengawalnya sepanjang waktu." Li Mingzi menepuk dadanya sendiri, mantap. "Kalau dia mulai macam-macam, tinggal kutendang sekali, langsung diam.""Itu bukan solusi yang meyakinkan," Bai Yumeng menghela napas, meski ujung bibirnya melengkung tipis, menahan geli."Percaya saja padaku." Li Mingzi menyeruput teh di depannya, tenang seolah semua sudah diperhitungkan. "Selama ini rencanaku selalu berhasil."Bai Yumeng baru hendak membalas, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada satu titik di kepala Li Mingzi, di dekat pelipis kirinya."Kau... ada uban," tunjuknya, telunjuk mengarah tepat ke helai putih yang mencuat di antara rambut hitamnya.Li Mingzi mengerutkan kening, mengangkat tangan meraba tempat yang ditunjuk. "Uban? Aku?""Dua, tiga he
Read more