LOGINAku jenius yang menguasai segalanya. Tapi apa gunanya… jika aku hanya punya satu bulan untuk hidup? Li Mingzi adalah anomali dalam dunia kultivasi. Di usia 22 tahun, dia telah menguasai beladiri, feng shui, pengobatan, racun, hingga formasi kuno, pencapaian yang biasanya membutuhkan ratusan tahun. Dia ditakdirkan menjadi pewaris Aula Bintang. Lalu kutukan itu datang. Darah Emas, kekuatan yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi racun yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Waktu tersisa tiga puluh hari. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup… adalah melalui kultivasi ganda dengan tujuh wanita yang telah ditentukan sejak lama. Masalahnya? Li Mingzi, yang tak terkalahkan dalam pertempuran dan tak tertandingi dalam ilmu… tidak tahu apa-apa tentang hati wanita. Tujuh wanita. Tujuh rintangan. Satu nyawa yang terus terkikis. Di saat yang sama, bayang-bayang masa lalu mulai bangkit, pengkhianat di Aula Bintang, musuh yang bergerak dalam diam, dan rahasia ribuan tahun yang perlahan terkuak. Li Mingzi bisa menaklukkan musuh mana pun. Tapi kali ini… bisakah dia menaklukkan tujuh hati sebelum waktunya habis?
View MoreQin Luxi masih berdiri di lorong, wajahnya belum sepenuhnya reda dari rasa panas yang menjalar entah kenapa. Dia menatap Li Mingzi yang masih berusaha menghapus jejak darah di sudut bibirnya."Kondisimu benar-benar kurang sehat?" tanyanya, nada suaranya sengaja dibuat biasa saja."Cuma kelelahan," jawab Li Mingzi singkat. "Tidak perlu dipikirkan."Qin Luxi menatapnya sebentar, seolah mencoba mencari kebohongan di balik kalimat itu. Tidak menemukan apa-apa, dia akhirnya mengangguk pelan."Jam tiga sore," katanya tiba-tiba. "Aku akan mengirim orang menjemputmu.""Menjemputku? Untuk apa?""Kau akan tahu nanti." Qin Luxi sudah berbalik sebelum Li Mingzi sempat protes, langkahnya cepat meninggalkan lorong itu, meninggalkan pria itu berdiri bingung sendirian.Li Mingzi menghela napas, menggaruk belakang kepalanya. "Perempuan ini benar-benar tidak bisa ditebak," gumamnya.***Dua jam berikutnya berlalu dengan kericuhan yang perlahan mereda. Mo Yan sudah setengah mabuk berat, wajahnya memerah
Wen Lu menyaksikan semuanya dengan mata menyipit. Empat pukulan, empat ahli tumbang. Mo Yan bukan lagi orang gemuk yang bisa diremehkan."Kekuatan seperti itu..." gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.Di sampingnya, seorang pria tua membungkuk hormat pada Qin Luxi. "Nona Muda, izinkan saya menguji Putra Mahkota juga.""Tidak perlu." Qin Luxi menjawab singkat. "Sudah cukup jelas kemampuannya."Pria tua itu mengangguk, mundur teratur. Qin Luxi kembali duduk tenang, tidak berniat menambah keributan.Sementara itu, Lu Vivi mulai gelisah melihat Wen Liyin duduk begitu dekat dengan Mo Yan. Tangannya buru-buru mencolek lengan Lu Minghao, matanya melirik tajam memberi kode.Lu Minghao paham. Dia berdiri cepat, membungkuk sopan ke arah Mo Yan."Putra Mahkota, kedatangan Keluarga Lu ke Kota Awan sebenarnya bukan hanya untuk menyampaikan hormat." Dia berhenti sejenak, mengatur napas. "Kami juga ingin mengupayakan ikatan yang lebih erat antara keluarga kami dengan Aula Bintang."Mo Yan meng
Lu Vivi dan Ye Qing serentak menoleh ke arah Wen Liyin. Gadis itu tadi yang paling gencar memuji ketampanan Putra Mahkota, bahkan sampai menyindir Li Mingzi segala."Katanya tampan," bisik Ye Qing, sudut bibirnya menahan tawa.Wen Liyin memilih diam, wajahnya kaku menahan malu. Dia menunduk, pura-pura membenahi ujung lengan bajunya.Wen Lu mengernyitkan alis, menatap sosok gemuk berkeringat itu dengan tatapan meremehkan yang tidak disembunyikan sama sekali. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana bisa empat keluarga besar tunduk pada orang seperti ini? Rasa hormat yang tadinya sudah tipis kini nyaris habis.Mereka masuk satu per satu ke ruangan yang luas dengan meja panjang di tengahnya. Mo Yan berdiri menyambut, kedua tangannya terentang lebar dengan senyum lebar yang dipaksakan."Selamat datang, selamat datang! Silakan duduk, silakan..."Kata-katanya berhenti di tengah jalan. Matanya membeliak menatap wajah-wajah dingin di depannya, terutama Wen Lu yang berdiri dengan tatapan tajam
Li Mingzi berjalan santai ke tengah lobi, kedua tangan disilangkan di belakang punggung. Dagunya sedikit terangkat, matanya menyapu rombongan satu per satu dengan gaya seorang pengawal yang terlalu percaya diri dengan jabatannya."Sebelum bertemu Putra Mahkota," katanya, suaranya dibuat berat, "semua harus diperiksa dulu. Prosedur keamanan."Wen Lu mengernyit. "Diperiksa? Kau tahu siapa kami?""Keluarga Wen," Wen Liyin menyambar, dagunya ikut terangkat. "Kami bahkan punya saham di maskapai penerbangan keluarga. Untuk apa diperiksa segala?"Li Mingzi menatapnya datar. "Kalau lahir sepuluh tahun lebih awal, mungkin kau bisa dijadikan peledak untuk menara tinggi."Wajah Wen Liyin memucat seketika. Butuh beberapa detik sebelum dia sadar barusan baru saja dihina telak."Kau...!" Dia menahan diri, lalu mengganti taktik. "Baik, boleh diperiksa. Tapi harus pengawal wanita yang periksa aku.""Tidak ada pengawal wanita," jawab Li Mingzi cepat, tanpa basa-basi."Setuju," Lu Vivi ikut mengangkat
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,
Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi
Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"Semua orang terdiam seketika.Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore