Suite presiden nomor 1101 sudah berganti wajah sejak sore tadi. Perabotan lama disingkirkan, digantikan set baru pilihan Keluarga Qin, semuanya serba putih gading dengan sentuhan emas di tepiannya. Wanginya pun berubah, aroma bunga osmanthus menguar lembut dari lilin kecil di sudut ruangan.Qin Luxi berdiri di depan jendela besar, secangkir kopi hangat di tangannya. Kota Awan terhampar di bawah sana, kelap-kelip lampu memantul di kaca jendela, membingkai wajahnya yang tenang."Indah," gumamnya pelan, lebih pada diri sendiri. "Kota ini punya cara sendiri untuk menenangkan orang."Di belakangnya, seorang lelaki tua berdiri dengan punggung sedikit bungkuk, tangan terlipat rapi di depan tubuh. "Dibandingkan Ibu Kota Provinsi, tempat ini masih jauh tertinggal, Nona."Qin Luxi tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada gedung-gedung yang menjulang. "Kota yang hanya punya gedung tinggi tanpa jiwa manusia, hanyalah peti mati yang megah semata," ujarnya. "Tapi di sini, tatapan orang-orangnya ju
Read more