Glena berdiri dengan senyum pemenang. "Ayo merangkak sekarang," kata Glena. Suaranya tenang.Rania terdiam kaku. Di belakangnya, sayup-sayup terdengar kasak-kusuk dari geng sosialitanya.Suara bisikan yang biasanya berisi pujian tentang tas Hermes atau liburan ke luar negeri, kini berubah menjadi ujaran yang mencemooh."Eh, seriusan itu si Rania disuruh merangkak?" bisik Jeng Miranda, sengaja menutupi mulutnya dengan kipas sutra, meski matanya berbinar kegirangan."Ih, kok bisa sih? Emang ada skandal apa? Makanya, jangan sok paling kaya di arisan," sahut Jeng Sisca, tak kalah sinis.Mendengar itu, jantung Rania berdegup kencang. Ia meremas ujung blus sutranya hingga lecek.Dengan sisa-sisa harga diri yang tercecer, Rania membalikkan badan. Ia melangkah mendekat ke arah teman-teman sosialitanya sambil memamerkan senyum memelas, sebuah senyuman yang tampak mengerikan karena dipaksakan."Anu, Jeng... Sisca, Miranda..." Rania setengah berbisik, matanya melirik cemas ke arah Glena. "Bisa
Read more