Namun, ketenangan di permukaan itu tidak bertahan lama. Sikap keras kepala Maia tidak mereda meskipun sudah dipermalukan di depan umum, malah berubah menjadi gangguan yang semakin tak terhindarkan.Dia tidak lagi mencoba membuat keributan di tempat umum, melainkan mulai menunggu. Dia menghafal jadwal Seth. Di gedung kelas yang sering Seth datangi, perpustakaan, bahkan di bawah asrama laki-laki, sosoknya bisa muncul seperti hantu.Dia tidak lagi menangis atau berteriak, hanya menatapnya dengan mata penuh keluhan, kesedihan, dan tuduhan, terus-menerus bertanya."Seth, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?""Kamu pernah bilang akan menjagaku, kamu lupa?""Kasih aku jawaban, kalau nggak aku nggak akan pergi!"Gangguan yang diam-diam dan terus-menerus seperti ini justru lebih membuat orang gelisah daripada ledakan emosi.Kesabaran Seth sudah habis. Dia bersikap dingin, mempercepat langkah untuk menghindarinya, tetapi Maia selalu bisa muncul lagi.Suatu hari, setelah selesai bermain bola
Mehr lesen