Malam itu, udara di mansion terasa hangat dan penuh misteri. Asisten pribadi Pao Pao, seorang wanita paruh baya yang selalu diam dan patuh, mengantar Wandra menyusuri koridor panjang menuju kamar utama. “Nona Pao Pao sudah menunggu,” kata asisten itu pelan sebelum membuka pintu kamar dan mundur tanpa suara.Wandra melangkah masuk. Kamar Pao Pao bukan sekadar kamar tidur biasa. Ruangan luas itu dihiasi lampu temaram berwarna keemasan, dan di tengah-tengahnya terdapat kolam renang kecil pribadi berukuran intim, airnya jernih dan beriak lembut di bawah cahaya redup.Pao Pao berdiri di tepi kolam. Usianya sudah menginjak tiga puluh tahun lebih, tapi wajah dan tubuhnya masih terlihat segar dan imut seperti gadis dua puluh tahunan. Rambut hitamnya tergerai basah, dan ia hanya mengenakan pakaian tipis berbahan sutra yang hampir tembus pandang, menempel lembut di kulitnya yang putih mulus. Ketika melihat Wandra, bibirnya melengkung manis.Tanpa kata, Pao Pao melepaskan tali tipis di bahunya.
Read More