Kuas halus menyapu pipi Ruenna berulang kali. Ia duduk diam di depan cermin besar, membiarkan tim perias bekerja setelah sesi belanja dan spa yang melelahkan bersama Livia. Pakaian baru yang tadi dipilihkan Livia sudah tergantung rapi, siap untuk dikenakan. Pikirannya masih tidak tenang. Telepon dari Genio semalam terasa aneh. Pria itu hanya memastikan suaranya terdengar, lalu mematikan sambungan tanpa pesan tambahan. Di kursi sebelah, Livia duduk dengan tenang selagi kelopak matanya dipulas. Tanpa membuka mata, ia bertanya, "Kau sudah mempelajari dasar Ikebana?" "Sudah, Ma," sahut Ruenna pelan. Dalam hati, Ruenna tersenyum kecut. Ia mencoba memutar kembali hapalan yang ia tonton sejak minggu lalu. Bulan lalu, Livia menyeretnya ikut kelas sejarah seni. Ia terpaksa menghafal nama-nama pelukis dan aliran seni hanya agar kepalanya tidak terlihat kosong saat para istri pengusaha mulai berbincang. Kini, kegiatan Livia adalah estetika merangkai bunga. Selesai dirias, Ruenna
Baca selengkapnya