Share

13. Rongsokan

Author: SayaNi
last update publish date: 2026-05-10 08:13:09
Dengan panik, Ruenna mendaratkan kedua telapak tangannya tepat di wajah Jerry, menahan pria itu agar berhenti mendekat.

​Jerry pun melepaskan cengkeramannya di pipi Ruenna. "Ada sesuatu di matamu," katanya kemudian.

"Mengapa kamu jadi memperhatikan mataku begitu?" Ruenna segera menarik diri dan buru-buru memalingkan wajahnya.

Ia mengusap ujung matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, mengira ada sisa kotoran mata yang menempel di sana dan telanjur terlihat oleh Jerry.

"Kau hab
SayaNi

Hallo

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   114

    Fischer melangkah ke depan, mengambil mikrofon dari pemimpin upacara. "Tamu undangan yang terhormat, saya memohon maaf atas ketidaknyamanan yang sangat tidak pantas ini. Demi keamanan Anda semua, tidak ada satu pun yang diizinkan meninggalkan area vila hingga pemeriksaan internal kami selesai." Di barisan belakang, Fiorella tersenyum samar. Ia menyilangkan kakinya dengan anggun, menunggu reaksi rasa malu dari keluarga angkat Ruenna. Namun, alih-alih menunduk malu, Fischer malah melanjutkan dengan tegas. "Mengenai foto-foto yang baru saja tersebar, tidak ada yang perlu disembunyikan. Putri saya adalah korban rekayasa hukum dan telah dinyatakan tidak bersalah. Silakan berpindah ke taman pinggir danau. Sampanye telah disiapkan untuk Anda nikmati." Fischer memberi isyarat kepada kedua putra tertuanya untuk memandu para tamu meninggalkan area taman menuju aula vila. Begitu taman itu mulai kosong, Laura bergegas menghampiri Ruenna yang masih terguncang dalam dekapan Jerry. Ia merangk

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   113 The Wedding

    Ruenna duduk diam di depan meja rias, membiarkan sang penata rias memoles riasan natural di wajahnya. Gaun pengantin haute couture putihnya melekat sempurna membalut tubuhnya. Dari balik jendela kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit kamar, tampak hamparan air biru Danau Como berkilauan diterpa cahaya matahari. Ruenna masih sulit memercayai semua ini. Laura dan Fischer Franceschi benar-benar menutup akses satu semenanjung kecil di tepi Danau Como hanya untuk menggelar pernikahannya di vila bersejarah milik keluarga mereka. Selama ini, ia pikir keluarga yang mengadopsinya ini hanyalah keluarga kaya Eropa pada umumnya. Pintu kamar terbuka. Laura melangkah masuk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu berdiri di belakang kursi, menyentuh lembut kedua bahu Ruenna. "Ruenna, putriku yang cantik," ucapnya. Laura berjalan ke depan dan menggenggam kedua tangan Ruenna erat-erat. "Terima kasih sudah membiarkan kami mengantarmu hari ini. Seumur hidup, aku hanya

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   112 Keluarga Baru

    Ruenna melangkah mendekati meja Homar setelah pintu tertutup, menahan Jerry di luar."Duduklah, Ruenna," tutur Homar lembut. Ruenna menurut, mengambil posisi di kursi seberang meja Homar.Homar menghela napas berat sebelum berkata, "Korban pelecehan, ex con, dan wanita tanpa silsilah keluarga. Kau pasti tahu, bagi keluarga kami, latar belakangmu adalah sebuah anomali."Ruenna hanya diam mendengarkan. Pada akhirnya masa lalunya diketahui oleh keluarga Jerry. Ya, hal yang terus berulang-ulang ia dengar. Bukan salahnya lahir menjadi anak yang tak punya silsilah."Aku tidak sedang menghakimimu. Aku hanya sangat memahami pola pikir putraku," lanjut Homar, menyandarkan punggungnya perlahan. "Jerry selalu melakukan apa pun yang bertolak belakang dengan ekspektasi keluarga. Saat kami mengharapkannya mengambil studi medis atau manajemen bisnis, dia memilih teknik arsitektur. Saat dia diharapkan mulai bekerja di perusahaan kakeknya, dia justru terjun ke dunia hiburan menjadi aktor."Homar menc

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   111 Keputusan Kakek Mario

    Karena paksaan ibunya, Jerry melangkahkan kaki kembali ke kediaman Mario. Di ruang baca beraroma kertas tua itu, Kakek Mario duduk bersandar di kursi rodanya. Pria tua itu baru saja keluar dari rumah sakit setelah terkena serangan jantung, hasil dari terapi kejut yang diberikan Jerry tempo hari. Di ruangan itu hanya ada Jihan, Eric, dan Narin. Serta satu pihak luar, Cardy Savieoro, Kepala Trustee yang mengelola aset triliunan dinasti mereka.Begitu melihat Jerry melangkah masuk, Kakek Mario memberi isyarat dengan dagunya. "Duduk."Jerry menurut. Ia menjatuhkan diri ke salah satu sofa dengan santai, sangat bertolak belakang dengan Eric di seberangnya."Bacakan, Cardy," perintah Kakek Mario.Pria bersetelan abu-abu tua itu membalik dokumen di tangannya sekilas. "Sesuai instruksi Tuan Besar, seluruh 58% saham mayoritas keluarga tidak lagi berstatus hak milik pribadi. Saham tersebut resmi dipindahkan ke dalam Family Trust."Cardy beralih menatap deretan ahli waris di ruangan itu. "Artiny

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   110 Ketagihan Buat Bayi 21+

    Ruenna tanpa ragu melangkah maju, dan langsung melayangkan pukulan keras ke wajah pria paruh baya itu.Bugh!Kepala Aras terlempar ke samping."Itu untuk Anda yang telah membuatku menjadi tahanan kriminal selama tiga tahun," desis Ruenna.Aras meringis tak terima, menatap Ruenna dengan marah. "Kau memukul orang tuamu—?"Bugh!Satu pukulan lagi mendarat di wajahnya."Dan ini untuk ibuku," potong Ruenna datar.Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya yang kebas sehabis memukul, lalu menghela napas panjang. Ia berbalik menatap Jerry. "Sudah selesai. Ayo kita pulang."Kening Jerry berkerut. Ia menatap istrinya dengan raut tidak percaya. "Hanya begitu saja?"Ruenna mengangguk dan berjalan santai keluar ruangan.Di belakang punggung Ruenna, Jerry tentu saja kurang puas. Ia tidak mengeluarkan uang suap dalam jumlah besar hanya untuk dua pukulan singkat. Apa pun kondisi Aras saat keluar dari ruangan ini nanti, laporannya hanya akan tertulis sebagai korban pengeroyokan sesama tahanan.Jerry mel

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   109 Buat Bayi 21+

    Ruenna perlahan melepaskan diri dari rangkulan Jerry. Sembari berdiri, ia memasukkan kembali surat ibunya ke dalam kotak kaleng, lalu meletakkannya di atas meja.Jerry ikut bangkit berdiri. Sembari memegangi pinggang Ruenna, matanya melirik kotak yang gemboknya sudah patah itu. "Kau merusak kotak Nenek?"Tanpa menjawab pertanyaan basa basi itu, Ruenna berbalik dan menatap Jerry dalam-dalam. Ia menjinjitkan kedua kakinya, lalu mengalungkan tangan ke tengkuk Jerry untuk menarik pria itu menunduk. Ruenna pun menyambar bibir suaminya. Jemarinya menyusup ke sela rambut tebal Jerry, memberi usapan sensual. Ciumannya merambat turun ke leher, mengecup kulit hangat Jerry. Sembari membuka kancing kemeja suaminya satu per satu, Ruenna mendesakkan tubuhnya makin lekat. Ia menyelipkan salah satu pahanya ke sela kaki Jerry, memberi gesekan halus di sana. Kecupannya terus turun dari jakun hingga ke dada bidang pria itu.Otot dada Jerry mengeras di bawah bibir Ruenna. Pria itu menangkap pergelangan

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 7

    "Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 6

    Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 5

    Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 4

    Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status