Zevanya tercenung mendengar kata-kata Jarreth. Sungguh sangat sederhana. Tidak ada pemikiran lain, hanya menyuruhnya tidak perlu memedulikan pandangan orang lain.Dalam hal cuek, Jarreth masih sama cueknya seperti dulu.Dan itu membuat Zevanya mengeluh dalam hatinya lagi. ‘Ya, kamu sih enak. Mana ada yang berani bergosip di depanmu. Tapi aku? Nggak ada yang sungkan menggosipkanku ...!’Rasanya sungguh merana terhadap pikiran ini. Itu yang Zevanya rasakan sehingga tanpa sadar wajahnya terlihat masam.Memandangi Jarreth, Zevanya jadi teringat pada masa lalu. Di masa lalu mereka tidak pernah makan di tempat-tempat mewah.Mereka makan di restoran biasa. Jarreth juga mengemudikan motor besar, tidak pernah mobil.Tapi dengan motor itu, Jarreth membawanya ke banyak tempat. Ke restoran, ke cafe, ke pantai, ke kebun anggur, ke resort, ke kaki gunung, bahkan hanya dengan motor mereka mengelilingi kota mereka sampai ke kota sebelah, terkena panas, hujan, bahkan cuaca dan udara dingin.Zevanya mer
Magbasa pa